Anak Depresi… Mungkinkah?

Bukanlah hal aneh jika orang dewasa mengalami depresi. Seiring dengan meningkatnya beban hidup di masa sekarang ini, meningkat pula kecenderungan orang untuk menjadi depresi. Tapi, bagaimana jika ini terjadi pada anak kecil yang dianggap belum mempunyai beban hidup? Apakah ada kemungkinan mereka mengalami depresi? Jawabnya ternyata ADA!
Bagaimana cara mengetahui anak kita mengalami depresi? Apakah kesedihan pada anak-anak dianggap tidak wajar? Bagaimana cara membedakan kesedihan dengan depresi pada anak-anak? Semuanya akan dibahas di bawah ini.
Gangguan depresi pada anak sebelumnya tidak terlalu dikenali dan biasanya dianggap sebagai gangguan mood yang normal pada fase perkembangan. Keraguan ini disebabkan karena anak dan remaja dianggap belum matang secara psikologis dan kognitif. Berdasarkan penelitian, anak perempuan memiliki kecenderungan untuk menderita depresi lebih tinggi daripada anak laki-laki.
Depresi merupakan sekelompok penyakit gangguan alam perasaan dengan dasar penyebab yang sama. Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap etiologi depresi, khususnya pada anak dan remaja adalah:

  1. Faktor genetik
    Meskipun penyebab depresi secara pasti tidak dapat ditentukan, faktor genetik mempunyai peran terbesar. Gangguan alam perasaan cenderung terdapat dalam suatu keluarga tertentu. Bila pada suatu keluarga, salah satu orangtua menderita depresi, maka anaknya berisiko dua kali lipat untuk menderita depresi dan apabila kedua orangtuanya menderita depresi maka risiko untuk mendapat gangguan alam perasaan sebelum usia 18 tahun menjadi empat kali lipat.
    Pada kembar monozigot, 76% akan mengalami gangguan afektif sedangkan bila kembar dizigot hanya 19%. Pricer (1968) dan Bertelsen et al (1977) melaporkan hasil yang hampir sama. Bagaimana proses gen diwariskan, belum diketahui secara pasti. Bahwa kembar monozigot tidak 100% menunjukkan gangguan afektif, kemungkinan ada faktor non-genetik yang turut berperan.
  2. Faktor Sosial
    Dilaporkan bahwa orangtua dengan gangguan afektif cenderung akan selalu menganiaya atau menelantarkan anaknya dan tidak mengetahui bahwa anaknya menderita depresi sehingga tidak berusaha untuk mengobatinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status perkawinan orangtua, jumlah sanak saudara, status sosial keluarga, perpisahan orangtua, perceraian, fungsi perkawinan, atau struktur keluarga banyak berperan dalam terjadinya gangguan depresi pada anak.
    Ibu yang menderita depresi lebih besar pengaruhnya terhadap kemungkinan gangguan psikopatologi pada anak dibandingkan jika depresi terjadi pada ayah. Beberapa peneliti melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat penganiayaan fisik atau seksual dengan depresi, tetapi mekanismenya belum diketahui secara pasti.
    Diyakini bahwa faktor non-genetik seperti faktor fisik maupun lingkungan merupakan pencetus kemungkinan terjadinya depresi pada anak dengan riwayat genetik.
  3. Faktor Biologis lainnya
    Dua hipotesis yang menonjol mengenai mekanisme gangguan alam perasaan terfokus pada terganggunya regulator sistem monoamin-neurotransmiter, termasuk norepinefrin dan serotonin (5-hidroxytriptamine). Hipotesis lain menyatakan bahwa depresi yang terjadi erat hubungannya dengan perubahan keseimbangan adrenergik-asetilkolin yang ditandai dengan meningkatnya kolinergik, sementara dopamin secara fungsional menurun.
    Diduga ada kaitan antara depresi dengan adanya gangguan kesehatan lain, seperti: infeksi virus, anemia, hipotiroid atau hipertiroid, dan epilepsi. Namun penyebab yang pasti dari depresi ini masih belum dapat dipastikan. Diduga kombinasi dari kerentanan genetik (biologi), pengalaman perkembangan yang kurang optimal secara psikologi dan terpapar pada stresor sosial dapat menyebabkan gangguan ini. 90% gejala depresi pada anak dan remaja didahului oleh adanya pemicu.

Faktior risiko yang dapat memicu munculnya depresi:

  • adanya riwayat depresi pada keluarga
  • episode depresi sebelumnya
  • konflik keluarga
  • kelemahan dalam bidang akademik
  • gangguan cemas atau penyalahgunaan zat

Tidak seperti bintik-bintik merah pada penyakit campak, atau hidung yang memerah pada penyakit flu, gejala depresi tidaklah terlalu konkret, dan sebagai konsekuensinya, seringkali hal ini tidak terdeteksi oleh orangtua. Berikut ini adalah tanda-tanda depresi:

  • Keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit sendi dan otot, sakit perut, dan rasa lelah
  • Sering bolos sekolah atau sikapnya di sekolah tidak baik
  • Adanya maksud dan usaha untuk lari dari rumah
  • Berteriak tanpa kejelasan, sering menangis atau mengeluh terhadap segala sesuatu
  • Merasa cepat bosan
  • Tidak ada minat untuk bermain dengan teman-temannya
  • Penggunaan zat atau alkohol
  • Tidak mau berkomunikasi dan berteman lagi
  • Takut akan kematian
  • Sangat sensitif terhadap penolakan dan kegagalan
  • Sering menunjukkan rasa marah, bermusuhan, dan sikap yang mudah tersinggung
  • Perilaku yang membahayakan dan ceroboh
  • Kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman atau orang lain
  • Konsentrasi yang buruk yang dapat berhubungan dengan nilai sekolahnya
  • Tangis terus menerus dan kesedihan persisten
  • Kurangnya antusiasme atau motivasi
  • Kelelahan kronis atau kekurangan energi
  • Menarik diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang tadinya disukai
  • Perubahan kebiasaan makan dan tidur (adanya kenaikan atau penurunan berat badan yang terlihat jelas, suka sekali tidur atau sulit tidur)
  • Suka lupa
  • Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan
  • Perkembangan mayor yang tertunda (pada balita – tidak berjalan, berbicara atau mengekspresikan diri)
  • Bermain yang melibatkan kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, atau dengan tema yang sedih
  • Seringnya muncul pembicaraan mengenai kematian atau bunuh diri.

Depresi harus dibedakan dengan kesedihan yang normal dan gangguan psikiatris lainnya. Sebelum diagnosis psikiatris ditegakkan, kondisi organik yang mirip ataupun yang menimbulkan gejala-gejala psikiatris harus disingkirkan terlebih dahulu seperti gangguan organik, intoksikasi zat, ketergantungan dan abstinensi, distimia, siklotimia, gangguan kepribadian, berkabung, serta gangguan penyesuaian.
Keadaan seperti ini sangat bervariasi, sehingga pengetahuan tentang perkembangan anak normal dan penyakit fisik dengan manifestasi psikiatris sangat diperlukan untuk dapat menegakkan diagnosis yang akurat.
Bagaimana mengobati depresi anak?
Perawatan di rumah sakit perlu dipertimbangkan sesuai dengan indikasi, misalnya penderita cenderung mau bunuh diri, atau adanya penyalahgunaan atau ketergantungan obat. Pada umumnya, penderita berhasil ditangani dengan rawat jalan. Sekali diagnosis depresi berat ditegakkan pada anak, psikoterapi dan medikasi merupakan terapi yang harus diberikan. Namun, pengobatan selalu bersifat individual, tergantung pada hasil pertimbangan evaluasi anak dan keluarganya, termasuk kombinasi terapi individu, terapi keluarga, serta konsultasi dengan pihak sekolah.
Pengobatan populasi depresi pada umumnya bersifat multi modal, meliputi anak, orangtua, dan sekolah untuk memperpendek episode depresi. Pada anak yang mengalami depresi, pengembangan kognitif dan emosi merupakan intervensi psikoterapetik yang harus dibangun. Beberapa pendekatan psikoterapi berbeda yang digunakan telah menunjukkan hasil, seperti:

  • Psikoterapi perorangan (individual psychotherapy)
  • Terapi bermain (play therapy)
  • Terapi berorientasi kesadaran (insight-oriented therapy)
  • Terapi tingkah laku (behavioral therapy)
  • Model stres hidup (life stress model)
  • Psikoterapi kognitif (cognitive psychotherapy)
  • Lain-lain, seperti terapi kelompok (group therapy), latihan orangtua (parent training), terapi keluarga (family training), pendidikan remedial (remedial education), dan penempatan di luar rumah (out of homeplacement).

Sedangkan, farmakoterapi yang sering digunakan:

  1. Golongan antidepresi trisiklik: Amitriptilin, Imipramin, dan Desipramin.
    Berbeda dengan orang dewasa, pada anak tidak menunjukkan perbedaan yang berarti antara antidepresi golongan trisiklik dengan plasebo. Obat ini bersifat kardiotoksik dan cenderung berakibat fatal bila melampaui dosis.
  2. Golongan obat yang bekerja spesifik menghambat ambilan serotinin: fluoksetin dan sertralin.
    Obat ini memberikan harapan yang cerah dalam pengobatan depresi pada anak dan remaja. Merupakan obat pilihan pertama pada anak dan remaja karena dapat ditoleransi dengan baik dan efek yang merugikan lebih sedikit dibandingkan dengan antidepresi golongan trisiklik. Sayangnya, sedikit sekali penelitian tentang pengobatan rumatan (maintenance) pada anak dan remaja. Dibandingkan dengan usia dewasa, pada masa remaja cenderung berkembang untuk agitasi atau menjadi mania bila mereka mendapat SSRIs (Selective Serotinine Reuptake Inhibitors). Obat ini juga dapat menurunkan libido.
  3. Litium karbonat
    Obat ini telah digunakan untuk pengobatan anak dan remaja yang mengalami agresi, mania, depresi, dan masalah tingkah laku, tetapi lebih berguna pada kasus yang berisiko menjadi bipolar.

Apabila depresi berat tidak diobati dan terus berlangsung dalam kurun waktu 7-12 bulan, maka akan berlanjut menjadi episode depresi berulang (recurrent) dengan gangguan sosial yang persisten antar dua episode. Semakin muda usia mulainya depresi, semakin jelek prognosisnya, tetapi erat hubungannya dengan faktor genetik. Anak yang mengalami depresi berat cenderung untuk menderita depresi berat berulang dan gangguan bipolar. Kebanyakan yang sembuh dalam beberapa bulan, kembali relaps 1-2 tahun kemudian.
Jadi, depresi dapat terjadi pada anak sebagaimana orang dewasa dan insidennya cenderung meningkat sehingga perlu diagnosis dini untuk memperoleh hasil terapi yang efektif. Psikoterapi yang sesuai dengan perkembangan anak merupakan pilihan awal sebelum farmakoterapi.
Sumber
• http://www.tempo.co.id/medika/arsip/042001/pus-3.htm
•
• http://www.kapanlagi.com/a/0000000120.html
• Kaplan & Saddock’s. Comprehensive Textbook of Psychiatry 8th ed 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *