Anakku Autis? Kenali Apa Itu Autisme!

Sekarang autis merupakan hal yang cukup menghebohkan sekaligus mengkhawatirkan bagi orang tua. Banyak media dan seminar ‘menjual’ tentang autis ini.
Sebelum membahas lebih jauh tentang autis, perlu diketahui ada 3 macam gangguan pervasif yang memiliki gejala mirip-mirip, yaitu:

  • Gangguan autistik
  • Sindroma asperger
  • Sindroma rett

Karena gejala yang mirip, sindroma asperger dan rett dimasukkan sebagai spektrum autis.
Autisme adalah gangguan neuropsikiatrik dengan karakteristik utama adanya penyimpangan/keterlambatan perkembangan keterampilan sosial, komunikasi, dan kognitif.
Gangguan autistik terjadi sebelum usia 3 tahun dengan angka kejadian 2-5 % per 10.000 anak. Gangguan autistik dapat melanda berbagai golongan sosial maupun ekonomi. Keluhan utama biasanya lambat bicara, ketulian, dan penyimpangan perilaku/sosial.
Autistik lebih banyak diderita anak laki-laki dibanding anak perempuan. Pada anak laki-laki memiliki ciri khas berupa gangguan otak yang lebih besar. Sementara pada anak perempuan, gejala keterbelakangan mental lebih menonjol.
Gejala karakteristik yang penderita autistik seperti:

  • Gangguan interaksi sosial (nonverbal multiple behaviour)
    Meliputi kontak mata yang kurang/tidak ada, ekspresi wajah dan emosi kurang dan dingin, sikap badan kurang memadai, menolak disayang, dipeluk dan ajakan. Juga tidak mau bermain dengan teman sebaya, tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain (acuh pada lngkungan, bermain sendiri), tidak ada hubungan sosial dan emosional timbal balik, dan tidak mampu membagikan kesenangan secara memadai.
  • Gangguan komunikasi/bahasa
    Dapat berupa:
    * Terlambat bicara
    * Gagal memulai dan mempertahankan percakapan
    * Bahasa aneh dan sering bergumam
    * Tidak paham ucapan yang ditujukan pada mereka
    * Mengulang kata-kata baru atau kata-kata yang pernah didengar, seperti penggalan kata atau lagu di TV dan radio
    * Cara bermain kurang imajinatif, monoton, dan tidak ada imitasi
    * Mengambil tangan orang tua atau orang lain untuk mengmbil benda yang diingini.
  • Terdapat pola perilaku stereotipik, berupa:
    * Perilaku dan minat terbatas, diulang-ulang, dan aneh
    * Terpukau pada satu benda. Suka objek berputar dan susun mainan berderet, seperti memutar roda terus-menerus.
    * Suka goyangkan tubuh, tepuk tangan, kepakkan tangan, benturkan kepala, menyeringai, lompat-lompat, mainkan jari-jari tangan depan mata
  • Hipo / hiperaktivitas
    * Impulsif dan bad mood
    * Seperti menggigit jari atau tangannya sampai berdarah, bentur kepala, tarik rambutnya, pukul dirinya
    * Tolak perubahan lingkungan atau rutinitas yang baru à jalan , makanan, piring, dll

Tiga karakteristik ini harus ada pada gangguan autistik. Tidak hanya 1 bagian saja.
70-80% anak autistik mengalami keterbelakangan mental sedang dengan IQ 20-70. Terdapat kesensitifan terhadap suara, cahaya, sentuhan. Tidak peka rasa sakit sehingga kalau terluka tidak nangis. Tertarik rangsangan indera tertentu, misalnya visual menyukai benda yang berputar atau tersusun rapi. Anak autis juga terdapat gangguan tidur & makan. Pola tidurnya terbalik (terbangun malam hari) dan menolak makanan baru, sulit makan. Anak autis memiliki fisik lebih pendek.
Penyebab autistik saat ini yang pasti adalah adanya kelainan genetik pada kromosom, komplikasi infeksi dan imunologi, kelainan Susunan Saraf Pusat (otak). Hubungan yang paling kuat adalah adanya Fragile X Chromosome dan Tuberous Sclerosis. Sementara allergi makanan vaksin MMR masih kontroversial. Belum ada bukti MMR menyebabkan autistik. Jadi aman kalau anak disuntik MMR. Kalaupun setelah disuntik MMR anak jadi autis, maka itu bukan kesalahan MMR tapi dari kromosomnya.
Selain itu dapat pula terjadi akibat pola asuh orang tua yang emosional, kaku, dan mengabaikan sang anak.
Penanganan autis dilakukan dengan cara:

  • Terapi obat-obatan
    Terapi obat-obatan di sini tidak berfungsi menyembuhkan (kuratif), namun untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengikuti intervensi psikoedukatif dan lainnya. Obat-obatan yang dapat diberikan seperti haloperidol, risperidone, dan golongan SSRI (Paroxetine, Fluvoxamine).
  • Intervensi psikologis
    Berupa intervensi edukasional dan vokasional, intervensi perilaku, psikoterapi, intervensi keluarga.

Strategi pendidikan yang dapat diberikan kepada anak autis misalnya dengan memahami potensi anak dan keinginannya, menampilkan perilaku yang positif, dan mengembangkan eksistensi anak. Terdapat beberapa langkah dalam pendidikan anak autis, yaitu:

  • One by one
  • Berulang sampai berhasil
  • Terstruktur langkah demi langkah
  • Teratur dan terukur
  • Perlu terapi lain: auditori, sensori, wicara

Pola nutrisi untuk penderita autistik misalnya:

  1. Karbohidrat
    Berikan beras dan beras merah. Hindari protein gluten seperti terigu, oat, barley, dan rye dan hasil olahannya.
  2. Protein
    Hindari daging berwarna merah, terutama daging sapi, ayam negeri, telur ayam negeri, dan olahannya seperti ham, sosis, kornet, bakso, dll. Dianjurkan: ikan, ayam kampung, tahu, tofu, tempe, dll.
    Hindari protein kasein pada susu sapi/hewan karena adanya beberapa enzim pencernaan yang tidak bekerja dengan baik pada anak autis, sehingga protein tidak dapat dicerna dengan sempurna sehingga terbentuk peptida yang dapat memicu gejala autisme.
    Susu sapi dapat diganti dengan susu kedelai.
  3. Lemak
    Lemak jenuh dibatasi, konsumsi lah essensial fatty acid seperti omega 3, DHA dan EPA
  4. Buah-buahan
    Batasi buah impor seperti apel dan anggur karena kemungkinan adanya pengawet berupa lapisan lilin di kulitnya yang bisa memicu autis. Dianjurkan mengkonsumsi pepaya dan nanas.
  5. Konsumsi vitamin B6 untuk memperbaiki fungsi otak dan kerusakan sel.
  6. Hindari pengawet/pemanis, pewarna, aroma kimia makanan, penyedap makanan.
  7. Mengkonsomsi antioksidan untuk meningkatkan kerja otak.
  8. Hindari alkohol, caffeine, minuman berkarbonat, coklat, gula, biskuit, es krim.
  9. Olahraga secara teratur.

Sementara itu, sindroma asperger dan sindroma rett memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
GANGGUAN RETT
5 bulan pertama tumbuh & perkembangannya normal. Namun usia 7- 24 bulan terhenti / terhambat pertumbuhan & perkembangannya yang berupa:

  • Gangguan keterampilan total / partial
  • Adanya gerakan bertujuan dan gerakan stereotipik (putir tangan dll.) dan – 50% terdapat kelemahan motorik sampai dengan dewasa.
    Pada usia 3-6 tahun dapat mengalami ataksia, apraksia, scoliosis, korea-atetosis, atropi spinal. Juga gangguan pengaturan buang air kecil & buang air besar. Terjadi keterlambatan dari perkembangan berbahasa (baik ekspresif & reseptif) yang sebelumnya sudah dicapai.
  • Terjadi kemunduran atau perlambatan pertumbuhan besar kepala pada usia 5-48 bulan

50% penderita Rett menderita serangan epilepsi akut (usia < 8 tahun), namun jarang ada perilaku yang menciderai diri sendiri (hal inilah yang membedakannya dengan autistik). Dan sindroma rett hanya terjadi pada Anak Perempuan.
Sindroma Asperger
Terdapat adanya kelemahan dalam interaksi sosial timbal balik, perilaku & minat stereotipik & terbatas, komunikasi verbal & non-verbal juga minimal. Namun tidak ada keterlambatan/retardasi umum {berbahasa & kognitif}, sebagian besar penderita sindroma asperger memiliki IQ rata-rata normal dan berlanjut masa remaja & dewasa.
Daftar Pustaka
Kaplan’s, Synopsis of Psychiatry, Edisi 8
PPDGJ III, cetakan pertama, Depkes RI, Direktur Jenderal Pelayanan Medik, 1993

3 Comments
  1. yuana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *