Ayo Kenali dan Pahami ADHD Anak

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dalam bahasa Indonesia disebut dengan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktif (GPPH) atau Gangguan Hiperkinetik.
ADHD muncul pada masa kanak-kanak awal. Biasanya mulai timbul di usia tiga tahun dan 5 – 13% terjadi pada anak usia sekolah. Sekitar 3 -7 % anak usia sekolah dan 4 % orang dewasa di Indonesia menderita ADHD. Gangguan psikiatri ini bersifat kronis. Lebih dari 50% akan berlanjut sampai remaja atau dewasa. Namun 30-40% menunjukkan perbaikan dalam perhatian dan kegiatannya. Anak laki-laki lebih sering dibanding anak perempuan dengan perbandingan 3-4 : 1.  Enam puluh enam persen anak ADHD usia sekolah dasar mempunyai minimal satu gangguan psikiatri lainnya, seperti kesulitan belajar, gangguan komunikasi/berbahasa, gangguan mood, kecemasan, dan oppositional defiant disorder/gangguan perilaku.
Apa penyebab ADHD?
Penyebab langsung ADHD belum diketahui. Ada beberapa faktor yang diperkirakan sebagai penyebab, yaitu faktor genetik, struktur anatomi otak, dan faktor neurokimiawi otak. Jika kekurangan norepinefrin menyebabkan inatensi. Jika kekurangan dopamin menyebabkan gejala hiperaktif dan impulsif. Sejauh ini belum ada bukti penyebab biologis dari seorang anak menderita hiperaktif. Kebanyakan penelitian menunjukkan adanya gen hiperaktif diturunkan oleh orang tua. Bila ada riwayat keluarga yang hiperaktif, ada kemungkinan generasi selanjutnya juga hiperaktif. Penyebab lain adalah gangguan pada kehamilan, ibu yang merokok, stres yang ekstrim saat hamil, atau terpapar alkohol. Bisa juga karena terjadi perlukaan otak akibat trauma saat anak dilahirkan. Anak-anak yang lahir prematur juga berisiko hiperaktif.
Bagaimana mengenali anak dengan ADHD?
Gejala utama ADHD ada 3, yaitu inatensi (sulit memusatkan perhatian/sulit konsentrasi), impulsivitas (sulit menahan keinginan untuk melakukan sesuatu), dan hiperaktivitas. Tipe ADHD juga ada 3, yaitu yang cenderung inatensi, hiperaktif-impulsif, dan kombinasi. Tipe inatensi biasanya terdapat pada anak perempuan. Tipe hiperaktif-impulsif dan tipe kombinasi lebih sering pada anak laki-laki.
Kita bisa mengenali gejala ADHD dari tiga ciri utama tadi. Dari INATENSI, anak dengan ADHD sulit mempertahankan konsentrasi, perhatiannya mudah beralih, gagal menyelesaikan tugas, menghindari usaha yang berkepanjangan, cenderung tidak rapi, anak sering kehilangan barang, pelupa, tidak teliti, dan tampak seperti tidak mendengarkan. Dari HIPERAKTIVITAS, anak cenderung gelisah, saat pelajaran di kelas anak sering meninggalkan kursi dan tidak bisa duduk tenang, berlari/memanjat berlebihan, anak selalu dalam keadaan tergesa-gesa, tidak dapat diam ketika bermain/bekerja, dan berbicara terlalu banyak. Dari IMPULSIVITAS, anak selalu tergesa-gesa bila menjawab, tidak bisa menunggu giliran, suka menginterupsi, dan mengganggu orang lain. Anak ADHD cenderung membuat onar.
Bagaimana mendiagnosis ADHD?
Harus terdapat minimal enam gejala inatensi dan/atau hiperaktivitas/impulsivitas. Gejala tersebut harus berlangsung selama enam bulan. Sebagian gejala timbul sebelum usia tujuh tahun. Gangguan yang disebabkan oleh gejala harus terlihat paling tidak pada dua lingkungan (misalnya di sekolah dan di rumah). Terjadi gangguan yang cukup bermakna dalam hubungan sosial, akademik, dan pekerjaan. Sebelumnya, gangguan jiwa lainnya (autisme, retardasi mental, skizofrenia) harus disingkirkan terlebih dahulu.
Sebelum mendiagnosa ADHD, psikiater akan melakukan wawancara dengan orang tua dan anak. Evaluasi pada anak dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan status mental, serta pemeriksaan fisik oleh dokter. Juga diperlukan data-data lain, yaitu informasi keadaan di sekolah dan wawancara anggota keluarga yang lain. Pemeriksaan lain yang dilakukan, yaitu skala penilaian dengan Abbreviated Conner’s Teacher Rating Scale (ACTRS) atau Iowa Conner’s Rating Scale dan pemeriksaan fungsi kognitif.
Profesi psikiater, psikolog, dokter anak atau dokter keluarga, dokter saraf, dan pekerja sosial klinis dapat mendiagnosa ADHD. Hanya psikiater dan dokter yang bisa memberikan resep obat jika dibutuhkan. Untuk konseling bisa diberikan oleh psikiater, psikolog, dan pekerja sosial klinis.
Di sini psikiater dan dokter berperan sebagai edukator dan konsultan yang bertugas memberi pengetahuan pada orangtua dan guru tentang ADHD, memberi pengetahuan pada anak sesuai usianya, bekerja sama dengan pihak sekolah, dan memberi konsultasi dengan orangtua dan guru tentang kelas/sekolah yang sesuai bagi anak.
Tidak boleh terburu-buru mendiagnosa anak sebagai ADHD karena bisa jadi sikap anak tersebut terjadi karena ada perubahan dalam kehidupan anak, seperti kematian salah satu orang tua atau kakek nenek, perceraian orang tua, atau hilangnya pekerjaan orang tua. Kita juga harus menyingkirkan adanya penyakit lain, seperti kejang yang tidak terdeteksi (petit mal atau kejang di lobus temporal otak), infeksi telinga tengah yang menimbulkan gangguan pendengaran sementara, adanya gangguan medis yang mempengaruhi fungsi otak, underachievement karena gangguan belajar spesifik lainnya, serta anxietas atau depresi.
Apa dampak ADHD?
Pada usia sebelum sekolah, ADHD menimbulkan gangguan perilaku. Pada usia sekolah, ADHD menimbulkan gangguan perilaku, prestasi akademik yang buruk, kesulitan bergaul, hingga rendah diri. Pada usia remaja, prestasi akademik akan tetap buruk, menimbulkan masalah sosialisasi, rendah diri, anak mulai merokok, berkendara dengan ugal-ugalan sehingga timbul kecelakaan, serta masalah kenakalan remaja lainnya.
Pada masa kuliah, prestasi akademik buruk, sulit mendapatkan pekerjaan, rendah diri, dan akhirnya terjerumus pada kecanduan NAPZA. Masa dewasa, orang dengan ADHD cenderung gagal dalam pekerjaannya, rendah diri, sulit bergaul, dan sering mengalami kecelakaan akibat mabuk saat berkendara.
ADHD berpengaruh pada prestasi akademik anak. Kebanyakan mereka berperilaku buruk di kelas (menentang guru atau orang tua), sering dihukum guru, dijauhi teman-teman sekelas, prestasi di sekolah buruk, her berulang kali, tidak naik kelas (mengulang), dikeluarkan dari sekolah, dan akhirnya gagal menyelesaikan sekolah. Dampak ini bisa berlanjut hingga remaja dan kemungkinannya besar sekali untuk terjadi kehamilan remaja, penyalahgunaan obat, dan kecelakaan saat berkendara. Remaja ADHD dua kali lipat lebih mungkin menjadi perokok. Orang-orang dengan ADHD lebih cepat mengalami ketergantungan obat-obatan sejak pertama kali mencoba.
Masa depannya juga terganggu karena pendidikan dan status pekerjaannya lebih rendah, pendapatan juga otomatis lebih rendah, dan dapat menimbulkan gangguan sosialisasi. Selain menimbulkan pengaruh pada dirinya sendiri, ADHD juga menimbulkan pengaruh pada keluarga, yakni stres, depresi, keharmonisan keluarga terganggu, dan perubahan status pekerjaan.
Apakah ADHD harus diterapi?
Terapi ADHD harus dilakukan agar perilaku anak yang mengganggu berkurang, ada perbaikan dalam prestasi sekolah, dapat memperbaiki hubungan dengan teman, saudara, orangtua dan guru, lebih mandiri di rumah maupun disekolah, meningkatkan kepercayaan diri anak, dan anak berperilaku yang lebih aman di komunitas (ketika menyeberang jalan, dan lain sebagainya). Bila dibiarkan anak akan sulit menyesuaikan diri di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari 30 % anak dengan ADHD mengulang kelas selama setahun di sekolah. Nilai akademis dan pencapaian skor mereka di sekolah seringkali di bawah rata-rata kelas. Bila tidak ditangani dengan baik, pada usia remajanya anak hiperaktif akan suka mencoba-coba. Penelitian menunjukkan sekitar 75 % remaja hiperaktif tanpa pengobatan menjadi pecandu narkoba. Sedangkan yang menjalani pengobatan hanya 25 % yang menyalahgunakan narkoba. Kecenderungan mereka menjadi pengguna narkoba karena salah satu sifat anak hiperaktif adalah rasa ingin tahunya besar tetapi impulsif.
Bagaimana terapi ADHD?
Ada berbagai macam terapi dalam menangani ADHD, yaitu dengan farmakoterapi (obat-obatan), psikoterapi dan intervensi psikososial lain, dan terapi remedial.
Mengapa perlu obat? Terapi farmakologis penting karena ADHD adalah gangguan yang sifatnya biologis. Aktivitas otak bagian tertentu yang mengontrol level atensi dan aktivitas berkurang. ADHD juga berhubungan dengan neurotransmitter (zat kimia yang menghantarkan pesan-pesan di otak). Obat diberikan bila gejala cukup mengganggu, ada hambatan fungsi sosial, edukasi (prestasi sekolah) dan emosional, serta bila pengobatan akan mempermudah kesuksesan program terapi lain. Obat yang diberikan bisa dari golongan psikostimulan atau non psikostimulan. Psikostimulan pilihan utama di Indonesia dan yang paling sering dipakai adalah metilfenidat. Efektivitasnya tinggi pada lebih dari tiga perempat anak dengan ADHD. Terjadi perbaikan tingkah laku di kelas setelah satu minggu mengkonsumsi obat. Selain itu juga memperbaiki produktivitas, akurasi, dan efisiensi. Untuk obat golongan non psikostimulan dipakai antidepresan trisiklik, Monoamine Oxidase Inhibitor (MAOI), Bupoprion HCL, Neuroleptik, dan Klonidin. Dua puluh lima persen anak dengan ADHD merespon baik dengan golongan ini.
Contoh psikoterapi dan intervensi psikososial adalah membina hubungan dokter – orang tua, strategi orang tua, diskusi dengan orang tua, terapi perilaku kognitif, pelatihan keterampilan sosial, terapi individual/kelompok/support group, dan terapi keluarga/parenting skill training.
Terapi remedial dibutuhkan pada anak ADHD dengan kesulitan tambahan, seperti kesulitan belajar spesifik, gangguan membaca (disleksia), dan keterlambatan bicara.
Antara obat-obatan dengan terapi perilaku ini harus dilakukan bersamaan agar hasilnya menjadi optimal. Jika penyebabnya bukan genetik biasanya pemberian obat dan terapi perilaku mulai terlihat hasilnya setelah 2-3 bulan. Namun untuk penyebab genetik bisa lebih lama hingga mencapai setahun. Jika penanganannya cepat, biasanya gejala hiperaktif bisa hilang ketika anak mulai berusia 15-16 tahun. Pilihan untuk menghentikan obat harus dibicarakan dengan dokter, guru, anggota keluarga, dan anak yang bersangkutan.
Tips untuk Orangtua

  1. Berikan instruksi yang ringkas. Ingat, mereka sulit fokus dan cepat bosan.
  2. Beri contoh berdisiplin. Kalau tidak, mereka akan menilai orangtua tidak konsisten dan hasilnya percuma. Harap diingat bahwa mereka pintar.
  3. Puji jika mereka berperilaku baik. Jangan selalu menghukum. Pujian membuat anak merasa dihargai.
  4. Orangtua bisa melakukan latihan sederhana melalui perintah ringkas, tentukan waktu untuk aktivitasnya.
  5. Olahraga permainan yang melatih konsentrasi seperti bulu tangkis atau basket yang melatih mereka untuk fokus pada bola. Olahraga bela diri (berikut filosofi dan meditasi) melatih konsentrasi dan ketekunan untuk melalui tingkatan hingga tingkat tertinggi.
  6. Permainan kecerdasan seperti menyusun puzzle dapat melatih mereka berkonsentrasi.
  7. Menggurangi asupan tinggi kalori, seperti coklat, sirup, dan kopi.

ADHD merupakan gangguan yang meliputi berbagai aspek perkembangan anak. Perlu penanggulanganan secara terpadu dan sedini mungkin. Orang tua dan guru perlu bersama-sama tim terapis mengatasi permasalahan ini agar anak dapat berkembang secara optimal.
 
*Artikel ini merupakan kolaborasi dr. Dharmawan Ardi Purnama Sp.KJ dan dr. Maria Irene Hendrata. 

2 Comments
  1. anhy81 10 years ago
    • TanyaDokterAnda 10 years ago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *