Belajar Banyak Bahasa Sejak Kecil, Baguskah?

Bahasa merupakan salah satu parameter dalam perkembangan anak, karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan berbagai kemampuan anak seperti kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi dan lingkungan sekitar anak.
Apa itu Kemampuan Berbahasa?
Kemampuan bahasa pada umumnya dapat dibedakan atas kemampuan reseptif (mendengar dan memahami) dan kemampuan ekspresif (berbicara). Kemampuan bicara lebih dapat dinilai dari kemampuan lainnya sehingga pembahasan mengenai kemampuan bahasa lebih sering dikaitkan dengan kemampuan berbicara.
Kemahiran dalam bahasa dan berbicara dipengaruhi oleh faktor intrinsik (dari anak) dan faktor ekstrinsik (dari lingkungan). Faktor intrinsik yaitu kondisi pembawaan sejak lahir termasuk bakat dan fisiologi dari organ yang terlibat dalam kemampuan bahasa dan berbicara. Sementara itu faktor ekstrinsik berupa stimulus yang ada di sekeliling anak terutama perkataan yang didengar atau ditujukan kepada si anak. Perkembangan bahasa terjadi paling cepat antara usia 2 dan 5 tahun.
Ada dua tipe perkembangan bahasa yaitu, Egosentric speech dan Socialized speechEgosentric speech yaitu berbicara pada dirinya sendiri. Sedangkan Socialized speech terjadi ketika berlangsung kontak antara anak dengan temannya atau dengan lingkungannya, yang dapat dibagi menjadi 5 bentuk, yaitu: 1). Adapted information (saling tukar gagasan atau ada tujuan bersama yang dicari); 2). Criticism (penilaian anak terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain); 3). Command (perintah), requeat (permintaan), threat (ancaman); 4). Question (pertanyaan); 5). Answer (jawaban).
Apa makna bahasa bagi anak?
Bahasa adalah barometer  dari perkembangan kognitif maupun emosi. Bahasa juga memainkan peranan penting dalam pengaturan perilaku yang mula-mula melalui pemahaman anak terhadap permintaan dan batas-batas orang dewasa dan kemudian melalui ”percakapan pribadi” dimana anak mengulangi larangan-larangan orang dewasa yang pertama kali didengar dan kemudian dijiwai. Bahasa juga memungkinkan anak mengungkapkan perasaan, seperti marah atau frustasi tanpa melampiaskannya; oleh karena itu, penundaan berbicara anak-anak menunjukkan tingkat kemarahan yang lebih tinggi dan tingkah laku luar yang lain.
Anak yang lancar berbahasa terlihat unggul di sekolah karena apa yang diajarkan dapat disampaikan dalam bahasa yang jelas. Semua kemampuan akademik dasar sebagian besar disampaikan oleh bahasa. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa anak dengan disfungsi bahasa biasanya memiliki kesulitan dalam karir pendidikan.
Apa pengaruhnya banyak bahasa bagi anak?
Bilingual (dwibahasa) adalah kemampuan menggunakan dua bahasa. Kemampuan ini tidak hanya dalam berbicara dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami apa yang dikomunikasikan orang lain, baik secara lisan maupun tulisan.3 Bilingual (dwibahasa) terdapat hampir di seluruh dunia, dalam semua kelas sosial dan semua kelompok umur.4 Kebanyakan anak-anak di dunia belajar untuk bicara dua bahasa dan hanya sekitar 25% saja dari anak-anak yang punya akses untuk berinteraksi dengan lingkungan dwibahasa yang tidak menjadi dwibahasa.5
Para ibu cenderung menginginkan anaknya bisa menguasai dua bahasa (bilingual) atau lebih. Terdapat berbagai alasan ibu menginginkan penguasaan bilingual pada anak, ada yang mengatakan untuk mempersiapkan anak menghadapi persaingan global nantinya, ada yang menganggap bahwa anak bilingual itu adalah anak yang cerdas, dan memiliki anak yang bilingual merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi para ibu. Namun, terkadang mereka tidak memerhatikan apakah si anak sudah siap disekolahkan di tempat yang proses belajarnya menggunakan beberapa bahasa.
Banyak sekali perdebatan seputar penguasaan bilingual dan monolingual di antara para ahli, peneliti maupun profesional lainnya. Perdebatan tersebut mencakup aspek budaya dan pemeliharaan bahasa, identitas individu, komunitas maupun nasional, dan akses yang sama terhadap pendidikan. Pihak yang pro, pada penelitian mereka, mengatakan bahwa:

  • bilingual mendapatkan kesempatan awal melatih kemampuan inhibitory control, sehingga ketika mereka berkomunikasi dalam satu bahasa, maka bahasa yang tak menjadi target akan ditekan oleh fungsi eksekutif yang digunakan untuk mengendalikan atensi dan inhibisi.
  • anak bilingual memiliki keunggulan kognitif dengan latar belakang sosial ekonomi yang sama, didapatkan bahwa meskipun pada awalnya level kosakata lebih rendah, namun anak bilingual menunjukkan pengolahan materi verbal yang lebih maju bila dibandingkan dengan anak monolingual.
  • anak bilingual menampilkan kemampuan semantik (membentuk kalimat) dua hingga tiga tahun lebih maju daripada anak monolingual.
  • efek belajar dua bahasa dengan kemampuan mengemukakan alasan menggunakan analogi.

Namun disatu sisi, pihak yang mengemukakan hasil kontra mengatakan:

  • penguasaan bilingual pada anak dapat menyebabkan perkembangan bahasa anak menjadi tertunda, tidak lengkap bahkan terganggu.
  • kemahiran dalam dua bahasa menyebabkan pertumbuhan kognitif menjadi terlambat dan hanya menimbulkan kebingungan saja.
  • kecerdasan verbal (kecerdasan terhadap kata-kata) yang lebih rendah dibandingkan dengan anak monolingual. Hal ini disebabkan oleh “balance effect”, dimana kemahiran bahasa kedua menyebabkan berkurangnya kemahiran bahasa pertama.
  • anak bilingual tidak pernah mencapai tingkat kemahiran linguistik yang sebanding dengan anak monolingual dalam menguasai bahasa.
  • anak bilingual memiliki sedikit (miskin) kosakata, artikulasi yang kurang, serta kesalahan gramatikal yang cukup banyak.

Jika kita simak penelitian di atas, anak yang belajar dua bahasa secara bersamaan pada awalnya bisa memperoleh bahasa yang lebih lambat dibandingkan dengan anak monolingual dan anak yang belajar bahasa pertama, kemudian ditambah bahasa kedua (bilingual sekuensial). Namun, perbedaan-perbedaan tersebut cenderung berkurang dengan cepat setelah memasuki sekolah, namun kita tak bisa mengabaikan pula hasil yang kontra.
Kesimpulan
Sampai saat ini masih banyak penelitian pro dan kontra mengenai hubungan bilingual dan kognitif anak, terutama dalam aspek kognitif bahasa itu sendiri. Ada yang mendukung bilingual dengan segala keunggulannya dan ada juga yang tidak mendukung dengan mengemukakan berbagai kelemahannya.
Keunggulannya antara lain adalah dalam kemampuan Metalinguistic Awareness, inhibitory control, olah materi verbal yang lebih maju dengan menghubungkan dan mengorganisasi struktur bahasa, mampu fokus dan memisahkan dua kata untuk makna yang sama, pembentukkan konsep kuat, manipulasi simbol-simbol, berpikir kreatif, kemampuan semantik yang lebih maju dan penggunaan analogi yang kuat.
Sedangkan kelemahannya adalah memperoleh bahasa dan perkembangan kognitif yang lebih lambat atau tertunda, IQ lebih rendah, miskin kosakata, artikulasi kurang, kesalahan gramatikal, kemampuan verbal yang rendah, dan adanya balance effect dan efek turn one language off.
Jadi, apa pilihan kita?
Referensi

  1. Nelson WE. Nelson Textbook of Pediatric. 15th Ed. Behrman RE, Kliegman R, Arvin AM, editor, Wahab AS, editor bahasa Indonesia. Philapelphia: Saunders; 2000.
  2. Dwijayanti A. Hubungan Pengetahuan dan Stimulasi Bahasa oleh Ibu dengan Perkembangan Bahasa pada Anak Usia Toddler (1-3 Tahun) di Desa Wonokerto Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Demak [skripsi]. Semarang: Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Muhammadiyah Semarang; 2008
  3. Valdez G, Figueora RA. Bilingual and testing: A special case of bias. 1994. Norwood, NJ: Ablex Publishing Corp..
  4. Grosjean F. Studying bilinguals: Methodological and conceptual issues.Bilingualism: Language and Cognition, 1 (2).1998. 131-149.
  5. Pearson, B. Social factors in childhood bilingualism in the United States. Applied Psycholinguistics. 2007. 28: 399-410.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.