Cara Atasi Obesitas pada Anak

Anak-anak yang gemuk mungkin akan terlihat lebih lucu dibandingkan anak-anak yang berat badannya pas atau ideal. Sayangnya, kegemukan atau “obesitas” yang terjadi pada masa anak cenderung berlanjut hingga masa dewasa. Semakin besar usia seorang anak saat mengalami obesitas, semakin besar pula kemungkinan obesitas itu akan menetap. Obesitas pada masa anak juga akan berdampak pada kesehatan di kemudian hari, terlepas dari berapa berat badan seseorang tersebut di masa dewasa.
Di Amerika Serikat angka obesitas telah meningkat tiga kali lipat dalam 40 tahun terakhir. Obesitas pada anak dan remaja mencapai 16,3%, dan sekitar 15,6% anak lainnya mengalami kelebihan berat badan atau overweight. Obesitas merupakan istilah untuk keadaan kelebihan berat badan yang lebih berat dibandingkan overweight. Peningkatan yang dramatis ini memperlihatkan bahwa faktor lingkungan mempunyai peran yang besar terhadap terjadinya obesitas, di samping adanya faktor genetik. Di Indonesia, data riset kesehatan dasar (Riskerdas) 2010 memperlihatkan bahwa angka obesitas pada balita di Indonesia mencapai 14%, sedangkan untuk kelompok anak berusia 15 tahun ke atas angka obesitas mencapai 19,1%.
Meningkatnya angka obesitas ini patut diwaspadai karena penyakit-penyakit yang disebabkan oleh obesitas yang dahulu jarang ditemui pada anak, mulai banyak didiagnosis pada anak zaman sekarang, di antaranya anak sering berhenti napas dan mengorok saat tidur, perlemakan di hati yang berlanjut menjadi terbentuknya jaringan ikat dan gagal hati, atau penyakit kencing manis yang berlanjut menjadi gagal ginjal dan komplikasi lainnya. Selain itu obesitas juga menyebabkan asma yang lebih sering kambuh, tulang tungkai bawah menjadi bengkok, hingga gangguan kesuburan berupa kesulitan memperoleh keturunan, serta hipertensi dan penyakit jantung di kemudian hari.
Penilaian obesitas pada anak dilakukan dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT), yaitu dengan rumus berat badan (dalam satuan kg) dibagi kuadrat dari tinggi badan (dalam satuan meter). Berbeda halnya dengan dewasa, hasil perhitungan IMT akan di-plot di kurva IMT untuk anak, dan diagnosis obesitas ditegakkan apabila hasil IMT sama dengan atau di atas persentil 95, sedangkan overweight apabila hasil IMT terletak di antara persentil 85 sampai dengan persentil 95.
Mengingat faktor lingkungan mempunyai peran yang besar dalam terjadinya obesitas, orangtua perlu membentuk pola makan dan aktivitas anak yang sehat sejak sedini mungkin. Modifikasi perilaku dan perubahan gaya hidup merupakan kunci keberhasilan mengatasi obesitas pada anak. Berikut tips-tips untuk mengatasi obesitas pada anak, khususnya untuk anak berusia di atas 2 tahun (anak di bawah usia 2 tahun tidak dianjurkan untuk menurunkan berat badan karena masa tersebut merupakan periode perkembangan otak yang pesat).

  1. Dukung anak untuk mengkonsumsi lebih banyak sayur dan buah. Berikan anak sedikitnya 5 porsi buah atau sayur setiap harinya. Buah-buahan sangat baik untuk diberikan sebagai pengganti cemilan/snack yang manis. Usahakan agar buah diberikan dalam bentuk buah potong (dan bukan jus). Dengan mengkonsumsi buah potong, anak harus mengunyah, dan dengan demikian akan mengurangi asupan kalori ke dalam tubuh. Apabila hendak memberikan jus, batasi pemberian jus hanya 1 gelas (180 mL) untuk anak usia 1-6 tahun, dan maksimal 2 gelas (total 360 mL) untuk anak usia 7-18 tahun.
  2. Batasi konsumsi minuman yang manis. Minuman dalam kemasan yang mengandung tambahan gula, termasuk minuman bersoda, atau susu kental manis yang dikonsumsi sebagai susu, mempunyai kalori yang tinggi, namun nilai gizi yang rendah.
  3. Batasi waktu menonton anak maksimal 2 jam dalam sehari. Batasan waktu ini termasuk waktu untuk menonton televisi dan bermain di depan komputer. Pada obesitas yang berat, waktu menonton TV secara bertahap dibatasi hingga maksimal 1 jam dalam sehari.
  4. Upayakan anak melakukan aktivitas fisis minimal 60 menit setiap harinya. Pada anak kecil, aktivitas fisik dapat dilakukan sambil bermain, sedangkan pada anak yang lebih besar aktivitas dapat bersifat lebih terarah, misalnya bersepeda, berenang, senam, atau olahraga lain yang disukai anak.
  5. Batasi frekuensi makan di restoran. Kurangi makan makanan di restoran cepat saji dan perbanyak makan makanan rumah yang disajikan bergizi dan berkualitas baik.
  6.  Biasakan anak untuk sarapan setiap pagi dengan makanan yang sehat. Sejumlah penelitian memperihatkan bahwa anak-anak yang mengalami overweight dan obesitas jarang mengkonsumsi sarapan pagi dibandingkan anak dengan berat badan normal.
  7. Yang terpenting: Jadikan upaya untuk mengatasi obesitas anak sebagai program seluruh anggota keluarga, dan bukan hanya untuk anak yang mengalami kelebihan berat badan.

Pada anak yang overweight, modifikasi perilaku dan gaya hidup bertujuan untuk mempertahankan agar berat badan tidak bertambah, sehingga dengan adanya pertumbuhan tinggi badan anak, diharapkan indeks massa tubuh akan turun secara bertahap hingga di bawah persentil 85. Berbeda untuk anak yang sudah mengalami obesitas, penurunan berat badan diharapkan terjadi secara bertahap, namun tidak melebihi 0,5 kg per bulan untuk anak berusia 2-5 tahun, dan tidak melebihi 4 kg per bulan untuk anak berusia 6 sampai 18 tahun. Penurunan berat badan yang sangat drastis dapat menyebabkan terbentuknya batu empedu, diare, anak menjadi lemas, asam urat yang meningkat, kadar protein tubuh menjadi rendah, dan hipotensi ortostatik, yaitu tekanan darah rendah yang terjadi pada saat perubahan posisi tubuh. Evaluasi keberhasilan program ini dilakukan dalam 3-6 bulan, dan apabila tidak didapatkan hasil sesuai target, intervensi lebih lanjut perlu dilakukan dan mungkin memerlukan kerjasama dengan disiplin ilmu lainnya.
Referensi

  1. Crocker MK, Yanovski JA. Pediatric obesity: etiology and treatment. Endocrinol Metab Clin N Am. 2009; 38:525-48.
  2. Anderson GJ, Hensrud DD. Obesity. Dalam: Rakel RE, Rakel DP, penyunting. Textbook of family medicine. Edisi ke-8. Philadelphia: Elsevier, 2011. h. 802-17.
  3. Spear BA, Barlow SE, Ervin C, Ludwig DS, Saelens BE, Schetzina KE, et al. Recommendations for treatment of child and adolescent overweight and obesity. Pediatrics. 2007;120:S254-88.
  4. Gahagan S. Overweight and obesity. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Ill JW, Schor NF, Behrman RE, penyunting. Nelson textbooks of pediatrics. Edisi ke-19. Philadelphia: Elsevier, 2011.
  5. Davis MM, Gance-Cleveland B, Hassink S, Johnson R, Paradis G, Resnicow K. Recommendations for prevention of childhood obesity. Pediatrics. 2007;120:S229-53.
  6. Bradford NF. Overweight and obesity in children and adolescents. Prim Care Clin Office Pract 2009;36:319-39.
  7. Barlow SE. Expert committee recommendations regarding the prevention, assessment, and treatment of child and adolescent overweight and obesity: summary report. Pediatrics. 2007;120:S164-92.

2 Comments
  1. agnes soeloer
    • TanyaDokterAnda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *