Gen Ibu Cerdas = Anak Cerdas.

Banyak pasangan menginginkan keturunan yang cerdas. Seorang ahli genetika menemukan bahwa kecerdasan anak ditentukan oleh gen Ibu. Demikian juga kelainan yang disebut dengan retardasi mental. Kelainan ini juga bisa timbul karena kelainan pembelahan sel yang menyebabkan kelainan genetik anak.
Menurut Dr. Ben Hamel, seorang ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands, kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari Ibu. Dalam keadaan normal, manusia memiliki 23 pasang kromosom yang berasal dari 23 kromosom Ibu (XX) dan 23 kromosom Ayah (XY). Pada saat fertilisasi atau peleburan, seluruh kromosom tersebut melebur sehingga menjadi 23 pasang kromosom dalam tubuh anak.
Seperti yang telah dikatakan oleh Dr. Hamel, kecerdasan seseorang ternyata diatur oleh jenis kromosom yang terdapat dalam tubuh orang tersebut, dan melekat pada kromosom X. Ibu yang memiliki 23 pasang kromosom XX tentunya lebih berperan dalam menentukan kecerdasan seseorang. Oleh karena itu, Ibu yang cerdas berpotensi melahirkan anak yang cerdas pula.
Namun demikian, tidak selalu kecerdasan 100% diturunkan dari Ibu kepada anaknya. Penurunan sifat ini bisa saja gagal oleh karena beberapa faktor. Salah satu penyebabnya bisa karena kegagalan peleburan kromosom pada saat fertilisasi. Kegagalan ini dapat menimbulkan kelainan yang berupa retardasi mental.
Lalu bagaimana dengan Retardasi Mental ?
Menurut situs Kompas.com, retardasi mental adalah “suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama terlihat selama masa perkembangan sehingga berpengaruh pada semua tingkat inteligensia, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial. Retardasi mental kadang disertai gangguan jiwa atau gangguan fisik lain”.
Retardasi mental yang terjadi karena kelainan genetik dapat disebut sebagai XLMR (X Link Mental Retardation). Kelainan mutasi gen yang menyebabkan retardasi mental ini juga disebut sebagai “Fragile X Syndrome”. Nama-nama untuk jenis kelainan tersebut juga sekaligus menekankan bahwa retardasi mental terkait dengan gen X.
Retardasi mental digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu ringan, sedang, dan berat. Retardasi mental ringan menyebabkan penderita mengalami keterlambatan dalam mempelajari bahasa, namun masih dapat melakukan kegiatan-kegiatan sehari-harinya dengan normal. Penderita retardasi mental sedang biasanya akan semakin lambat dalam memahami dan menggunakan bahasa, diikuti dengan penurunan keterampilan motorik, maupun keterampilan merawat diri.
Sementara itu, pada kasus retardasi mental berat, kondisi fisik penderita akan semakin buruk, disertai dengan gangguan motorik yang berat akibat kerusakan perkembangan pada susunan saraf pusat. Tingkat intelegensi (IQ) mereka biasanya di bawah 20 dan mereka akan selalu memerlukan pengawasan dan bantuan dalam merawat dirinya.
Fragile X Syndrome
Sindroma kerapuhan gen X adalah suatu kelainan genetik (mutasi) dari suatu gen yang disebut fragile X mental retardation 1 (FMR1). Sindroma ini menyebabkan hiperaktivitas, gangguan belajar, dan gangguan emosional, juga kadang menyebabkan retardasi mental dan autisme. Anak dengan sindroma ini bisa memiliki tingkat kecerdasan yang normal. Kebanyakan penderita adalah laki-laki karena mereka hanya memiliki 1 gen X. Pada perempuan, 1 gen X yang abnormal belum tentu menyebabkan retardasi mental apabila gen X yang lainnya masih normal.
Beberapa tanda fisik penderita yang menderita sindroma ini adalah: pembesaran kepala, kulit halus, kaki datar, dan muka panjang. Kesehatan umumnya juga akan terganggu dengan munculnya berbagai masalah kesehatan, seperti infeksi telinga yang terus-menerus, kejang, strabismus (kelemahan otot mata), kelainan katup jantung, dan kadang bisa menyebabkan hernia atau dislokasi sendi (walaupun masih jarang ditemukan).
Gejala-gejala yang paling jelas terlihat adalah dari segi perilaku. Penderita akan memiliki perkembangan yang lambat, yang lama-lama akan menyebabkan tingkat kecerdasan yang rendah. Mereka akan kesulitan belajar dan berkonsentrasi pada suatu hal, menjadi lebih sensitif, pemalu, dan perkembangan bahasanya akan terhambat. Pada kasus yang lebih berat, bisa menyebabkan autisme.
Bagaimana menanganinya ?
Hingga saat ini belum ada metode penyembuhan retardasi mental, sehingga yang lebih ditekankan adalah cara penanganan agar keadaan penderita tidak semakin memburuk. Sekarang, bagaimana cara membantu mereka yang menderita retardasi mental?
Penanganan masalah retardasi mental ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Terapi, berupa terapi bahasa, okupasional, fisik, dan bicara. Jenis-jenis terapi tersebut penting untuk meningkatkan kemampuan motorik dan perkembangan bahasa.
  2. Pendidikan. Perlu ada seorang pengawas atau tutor yang membantu pendidikan penderita. Komputer juga dapat sangat membantu belajar.
  3. Pengobatan untuk mengatasi perilaku penderita yang tidak baik (seperti hiperaktivitas dan gangguan emosional).

REFERENSI:

Home


www.kompas.com
http://www.med.umich.edu
http://www.ncbi.nlm.nih.gov
http://www.organisasi.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *