Hari Gini Masih Kurang Gizi?!

Meskipun zaman sudah maju dan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan sudah berkembang pesat, ternyata kejadian malnutrisi masih banyak diderita penduduk Indonesia. Malnutrisi sebenarnya tidak hanya menghinggapi bayi atau anak balita, tetapi dapat semua kelompok umur. Di samping anak-anak, perempuan terutama wanita hamil termasuk kelompok rentan. Dari sekitar 4 juta ibu hamil, separuhnya mengalami malnutrisi. Menurut UNICEF, jumlah anak balita penderita gizi buruk meningkat dari 1,8 juta (tahun 2005) menjadi 2,3 juta (2006).
Malnutrisi adalah suatu keadaan gangguan keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan tubuh untuk menjaga kesehatan. Ini dapat disebabkan oleh asupan makanan yang terlalu sedikit (subnutrisi atau kelaparan) maupun yang berlebihan (overnutrisi), ketidakseimbangan asupan komponen dasar makanan (karbohidrat, protein, lemak), dan penyakit.
Kebutuhan tubuh akan zat gizi meningkat pada masa bayi, ibu hamil-menyusui. Pada usia lanjut, kebutuhan akan zat gizi lebih rendah, tetapi kemampuan untuk menyerap zat gizipun mulai menurun. Oleh karena itu, risiko kekurangan gizi pada masa ini adalah lebih besar dan juga pada masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah. Perkembangan malnutrisi melalui 4 tahapan:

  1. Terjadi perubahan kadar zat gizi dalam darah dan jaringan
  2. Terjadi perubahan kadar enzim tubuh
  3. Kelainan fungsi pada organ dan jaringan tubuh
  4. Mulai timbulnya gejala penyakit dan dapat menyebabkan kematian

Berbagai sistem tubuh dapat dipengaruhi oleh kelainan gizi seperti sistem saraf, pembuluh darah, pencernaan, penglihatan, tulang ,dsb.
Jenis-jenis Malnutrisi
Berdasarkan tingkat keparahannya, malnutrisi dapat dibagi dari yang ringan sampai dengan berat. Untuk malnutrisi ringan-sedang gejala klinis belum terlalu jelas, diagnosa biasanya didapat dari pemeriksaan antropometrik
Malnutrisi berat/ Kurang Kalori Protein (KKP)
Kurang kalori protein disebabkan oleh konsumsi kalori yang tidak memadai, yang mengakibatkan kekurangan protein dan mikronutrisi (zat gizi yang diperlukan dalam jumlah sedikit, misalnya vitamin dan mineral). Terdapat tiga jenis KKP yaitu Marasmus, Kwashiorkor dan campuran Marasmus-Kwashiorkor.

  1. Marasmus, merupakan akibat dari kelaparan yang hampir menyeluruh. Seorang anak yang mengalami marasmus, mendapatkan sangat sedikit makanan, sering disebabkan karena ibu tidak dapat memberikan ASI. Ciri-cirinya : badannya sangat kurus, wajah seperti orang tua, kulit kering dingin dan kendor, otot-otot mengecil sehingga tulang-tulang terlihat jelas, gangguan kesadaran, sering disertai diare atau konstipasi dan infeksi. Jika anak mengalami cedera atau infeksi yang meluas, kemungkinannya buruk dan bisa berakibat fatal.
  2. Kwashiorkor, berbeda dengan marasmus, kekurangan protein pada kwashiorkor biasanya lebih jelas dibandingkan dengan kekurangan kalori. Ciri-cirinya : penampilan seolah-olah seperti anak gemuk (gemuk karena air) tetapi otot-otot mengecil sehingga anak berbaring terus-menerus, anak sering menolak segala jenis makanan, penurunan kesadaran, rambut berwarna kusam dan mudah dicabut/rontok, gangguan kulit berupa bercak merah yang dapat meluas dan berubah menjadi hitam terkelupas.
  3. Campuran Marasmus-Kwashiorkor, anak-anak yang menderita KKP jenis ini menahan beberapa cairan dan memiliki lebih banyak lemak tubuh dibandingkan dengan penderita marasmus.


Pemeriksaan yang dapat dilakukan

  1. Pemeriksaan antropometrik yaitu dilakukan pengukuran-pengukuran fisik (berat, tinggi, lingkar lengan, dsb) dan dibandingkan dengan angka standar.
  2. Menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu Berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan Tinggi badan (dalam meter). Indeks massa tubuh antara 20-50 dianggap normal untuk pria dan wanita.
  3. Mengukur ketebalan lipatan kulit. Lipatan kulit di lengan atas sebelah belakang ditarik menjauhi lengan kemudian lapisan lemak dibawah kulit tersebut diukur dengan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lipatan lemak normal adalah sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
  4. Pemeriksaan Laboratorium, misalnya pemeriksaan kadar darah merah (Hb), kadar protein darah (albumin/globulin), pemeriksaan urin, dsb.

Pengobatan

  1. Pada malnutrisi ringan dan sedang, pengobatan dilakukan dengan memberikan makanan yang bergizi, dengan menu yang seimbang, mengandung karbohidrat dan protein dalam jumlah yang cukup. Sering perlu juga dicari dan diobati penyakit lain yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak (misalnya penyakit cacing, diare, dsb).
  2. Anak dengan keadaan malnutrisi berat sering berada dalam keadaan darurat karena itu sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk pengobatannya.

Pencegahan

  1. Bayi diberikan ASI setidak-tidaknya selama 6 bulan pertama karena ASI mengandung zat gizi yang dibutuhkan anak selain itu juga mengandung zat-zat kekebalan yang dapat menghindarkan anak dari penyakit. Anak baru diberikan makanan tambahan yang bergizi setelah umur 6 bulan dan ASI harus tetap dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun.
  2. Periksalah secara teratur tumbuh kembang anak Anda di Posyandu.

Sumber:
UNICEF-Malnutrisi211005.pdf
http://www.info-sehat.com
http://www.kompas.com
http://www.medicastore.com

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.