Infeksi Rotavirus dan Imunisasinya

Anak yang Demam dan Sakit Perut Akibat Infeksi Rotavirus

Kami yakin bahwa para Ayah-Bunda Sobat DokterAnda sekalian pasti sudah pernah mendengar kata ini, imunisasi rotavirus. Namun pastinya belum tahu apa itu rotavirus, dan apa dampaknya bagi si kecil jika sampai tertular.

Apa sih sebenarnya Rotavirus ini?

Rotavirus adalah virus yang menyebabkan gastroenteritis atau radang pada lambung dan usus. Penyakit ini menyebabkan diare atau mencret yang parah, sering disertai dengan muntah, demam, nyeri perut. Mungkin kalau pada dewasa ini adalah penyakit yang tidak mematikan, namun berbeda dengan bayi dan kanak-kanak yang bisa menyebabkan dehidrasi atau kurangnya cairan yang berat. Virus ini pulalah yang paling sering menyebabkan diare pada bayi dan anak. Di seluruh dunia, lebih dari setengah juta kematian balita disebabkan oleh diare oleh rotavirus ini.
Rotavirus merupakan virus famili Reoviridae yang masuk dari saluran pencernaan, entah dari makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi virus ini.

Keadaan Epidemiologi Rotavirus di Indonesia

Menurut Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2007 oleh pemerintah, di Indonesia, 27% kematian balita disebabkan oleh diare, lebih tinggi dari pneumonia atau radang paru (20%). Di Indonesia, infeksi rotavirus terjadi sepanjang tahun dan lebih sering pada musim panas (Juli-Agustus).
Diare ini sering menjangkiti anak usia 6-24 bulan dengan tersering pada 9-12 bulan.

Patofisiologi

Rotavirus melakukan perusakan pada sel-sel saluran cerna atau enterosit pada jonjot-jonjot usus halus. Kerusakan jonjot usus menyebabkan cairan menjadi sulit diserap oleh usus, sehingga cairan yang ada di saluran cerna tidak bisa diserap. Kemudian sel-sel kripta juga mengeluarkan cairan akibat protein NSP4  yang bersifat toksik yang dikeluarkan oleh virus rotavirus.

Gejala Klinis

Anak yang menderita ini bisa bergejala, atau bisa tidak tergantung dari ringan beratnya diare. Biasanya gejala akan mulai ditunjukkan 24-72 jam setelah infeksi. Gejala yang ditunjukkan adalah demam, muntah, diare cair atau mencret yang dapat menyebabkan dehidrasi berat. Kasus ini juga dapat disertai kejang demam. Biasanya gejala ini berlangsung selama 4-7 hari.

Anda perlu tahu tanda-tanda dehidrasi. Pada dehidrasi ringan biasanya anak tetap aktif namun agak lesu dan menyusui atau minum air tetap kuat. Pada dehirasi sedang Anda sudah harus waspada dan merujuk ke rumah sakit.

Pada dehidrasi sedang, anak sudah jauh lebih lemas, tampak kehausan, mata agak cekung, kulit sudah agak keriput dan sulit kembali ke semula bila dicubit. Nah, yang sangat berbahaya dan bisa menyebabkan anak meninggal adalah dehidrasi berat, dimana anak kesadaran menurun sampai tak sadar diri, tidak bisa minum, lemas, mata sangat cekung, bibir kering dan biru, kulit baru kembali 2 detik bila dicubit, kencing sangat sedikit.

Pengobatan dan Terapi

Pengobatannya bersifat suportif, yaitu meringankan gejalanya. Tidak diberikan antibiotika karena penyebabnya adalah virus yang dapat sembuh dengan imunitas tubuh (ingat bahwa antibiotika adalah untuk bakteri, bukan virus). Pengobatannya adalah dengan diberikan asupan cairan atau rehidrasi melalui infus (bila sedang-berat) atau dengan minum (bila dehidrasi ringan), pemberian zink, ASI tetap diberikan.
Obat diare dan antimuntah tidak diberikan karena terbukti tidak ada manfaatnya.

Imunisasi dan Vaksin

Pertama kali Badan Kesehatan Dunia, WHO, merekomendasikan imunisasi rotavirus secara rutin pada April 2009. Di Indonesia, vaksin ini direkomendasikan oleh IDAI pada 2011. Vaksin rotavirus yang beredar adalah vaksin hidup yang mengandung 1 strain (monovalen) dan 5 strain (pentavalen). Vaksin 4 strain (tetravalen) pernah bereda di Amerika Serikat pada 1998 kemudian ditarik peredarannya karena berhubungan dengan kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI) berupa intususepsi (gangguan usus yang tertarik masuk ke bagian usus lain).
Kapan diberikannya, dok?

  • Vaksin monovalen diberikan secara oral (melalui mulut, mirip cara pemberian vaksin Polio) 2 kali dengan jarak waktu kurang lebih 8 minggu setiap pemberian. Dosis pertama diberikan pada bayi usia 6-14 minggu dan dosis kedua kurang lebih pada 24 minggu.
  • Vaksin pentavalen diberikan secara oral dan dilakukan dalam 3 kali. Jarak pemberian antar dosis berkisar 1 bulan sejak pemberian pertama. Dosis pertama diberikan pada usia 2 bulan, kedua pada 4 bulan, dam ketiga pada 6 bulan. (Keterangan: Jadwal yang ada di Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI 2011 adalah jadwal untuk vaksin pentavalen).

Ada kasus-kasus dimana perlu diperhatikan sebelum pemberian vaksin ini adalah bayi yang hipersensitif (alergi) dengan vaksin, bayi dengan gangguan kekebalan tubuh, bayi dengan terapi aspirin, bayi dengan terapi obat antiretroviral, dan bayi yang baru saja mendapat imunisasi lain.

Imunisasi ini terbukti dapat mencegah angka kesakitan pada anak. Di Amerika Serikat, pemberian vaksin rotavirus ini dapat mencegah 1,08 juta kejadian diare, mencegah 34.000 perawatan opname di rumah sakit, dan mencegah 95.000 perawatan di unit gawat darurat. Pemberian vaksin juga mampu menghemat pembiayaan kesehatan.
Jadi,  imunisasi rotavirus sungguh bermanfaat.

Referensi

  • Satgas Imunisasi IDAI. Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi 4, 2011.
  • CDC, Rotavirus

Leave a Reply

Your email address will not be published.