Jangan Biarkan Anak Tidak Dapat Buang Air Besar!

Buang air besar (BAB) adalah salah satu cara bagi tubuh untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme tubuh. BAB merupakan hal yang secara alamiah terjadi pada setiap manusia. Hal ini juga ditegaskan oleh dr. Murdani Abdullah, SpPD-KGEH dari Divisi Gastroenterologi FKUI/RSCM. “Normalnya, orang BAB 1x sehari sampai 3x seminggu. Kurang dari itu, dianggap konstipasi,” ujarnya.
Konstipasi atau sulit buang air besar (sulit BAB) bisa terjadi pada penderita mulai dari balita hingga orang dewasa. Seseorang dapat dikatakan menderita konstipasi apabila dalam waktu minimal 12 minggu memiliki dua atau lebih gejala dibawah ini, yaitu :

  • mengejan
  • tinjanya keras
  • perasaan tidak tuntas setelah BAB, walaupun tinja sudah tidak dapat keluar lagi
  • BAB kurang dari 3x seminggu

Konstipasi yang berlangsung singkat dianggap normal.
Banyak hal yang dapat menjadi penyebab timbulnya konstipasi, seperti:

  • kurang gerak
  • kurang minum dan makan makanan berserat
  • sering menunda BAB
  • kebiasaan menggunakan obat pencahar
  • gangguan pergerakan usus akibat obat-obatan tertentu, infeksi virus, kelainan pada sistem saraf dan otot atau kelainan sistem endokrin (hipotiroid, hiperkalsemia)
  • adanya gangguan seperti usus terbelit, sumbatan pada usus, hingga kanker usus besar
  • Pada anak-anak, seringkali yang menjadi penyebab timbulnya konstipasi adalah menunda BAB.

Apabila konstipasi terjadi, cobalah raba perut kiri bagian bawah, biasanya dapat teraba adanya benda keras yang sebenarnya merupakan tinja. Dengan menunda BAB maka penyerapan air di usus menjadi meningkat dan mengakibatkan tinja menjadi lebih keras dan sulit untuk dikeluarkan. Ada beberapa alasan yang membuat anak sering menunda BAB, walaupun tidak tertutup kemungkinan-kemungkinan lain, diantaranya:

  1. Latihan BAB yang salah dan terlalu dini, yang membuat anak menjadi trauma dan takut untuk BAB.
  2. Anak mengalami fobia toilet (kamar mandi kotor dan gelap).
  3. Tidak suka BAB di sekolah karena toiletnya bau.
  4. Anak lebih senang bermain.
  5. Riwayat psikologi anak (dimarahi karena BAB tidak pada tempatnya).
  6. Rasa nyeri pada saat BAB.

Penanganan konstipasi pada anak akan dapat membuahkan hasil yang baik apabila dokter dan orangtua bekerjasama. Dibutuhkan pemeriksaan yang teliti dari seorang dokter untuk memastikan apakah yang terjadi adalah benar konstipasi atau bukan. Dan bila memang konstipasi telah terjadi, maka harus dicari tahu penyebabnya. Dengan penyebab yang jelas, dokter dapat memberikan obat yang tepat.
Namun, tidak terhenti pada pengobatan dari dokter saja, orangtua pun harus turut serta dalam mengatasi masalah konstipasi yang terjadi pada anaknya. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua, yaitu:

  1. Memberi makanan tinggi karbohidrat yang tidak mudah dicerna (glukosa polimer) seperti sereal dan beras; makanan yang kaya akan serat seperti buah-buahan (alpukat, pepaya, dan jeruk) serta sayuran hijau.
  2. Meyakinkan anak bahwa soal BAB tidak perlu dicemaskan.
  3. Memberi pujian setiap kali anak tidak BAB di celana.
  4. Melakukan toilet training. Selama di toilet, anak dilatih untuk mengendurkan dan meregangkan otot dubur selama beberapa menit. Lakukan hal ini dengan suasana yang menyenangkan dan membuat anak menjadi nyaman, misal dengan bercerita, bernyanyi, dan sebagainya.
  5. Jangan cemas atau marah pada anak pada saat anak ketakutan karena mau BAB. Berilah dukungan pada anak.
  6. Memberi obat pencahar pada anak. Namun hal ini harus dilakukan dengan pengawasan dari dokter.

Dengan penanganan yang baik dari dokter bekerjasama dengan orangtua, diharapkan masalah konstipasi pada anak dapat teratasi. Bahkan, dapat mendidik anak untuk buang air besar dengan lebih teratur.
Sumber:
Behrman, Richard E., Victor C. Vaughan, R. James McKay, Jr. Nelson Textbook of Pediatrics, 11th edition, Asian edition. 1979.
OTC DIGEST. Hal 20-23. Edisi 16. Tahun II. 9 Desember 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *