Jempolku Nyam-nyam…!!

Sementara Brian (3 bulan) tertidur lelap di boks mungilnya, sang ibu dan ayah memandangi anak itu sambil berdiskusi. “Pa, kok anak kita suka sekali ngenyot jempolnya kalau tidur ya..?,” kata Ani, sang ibu. “Biarlah, Ma.. Toh dengan begitu dia gampang tidurnya.. trus gak nangis-nangis ngebangungin kita..” sahut Rio, sang ayah. “Kok papa malah senang sih anaknya makan jempol terus… kalau nanti keterusan sampai besar bagaimana?,”timpal sang ibu. Sang ayah menyahut, “Biar saja.. Victoria Beckham juga masih ngenyot jempol sampai gede..” “Lho..???”
Fenomena si kecil dengan jempol hisapnya banyak dijumpai oleh pasangan-pasangan muda yang memiliki bayi di bawah usia 1 tahun. Si kecil pada rentang usia ini suka sekali menghisap jempolnya, atau jari-jari lain, atau mungkin juga menghisap dot dari plastik, yang sering diistilahkan ngempeng. Mengapa bayi suka sekali menghisap? Apakah hal ini normal, dan apakah kebiasaan ini akan berlanjut sampai si anak dewasa? Untuk memudahkan penamaan, dalam artikel ini kebiasaan menghisap jempol, jari, dot, kain selimut, bantal, seluruhnya disebut “menghisap jempol”.
Menghisap jempol adalah perilaku normal pada bayi dan anak kecil. Kebiasaan ini dilakukan oleh 70-90% bayi, bahkan bayi di seberang belahan dunia seperti di Amerika Serikat. Walaupun hal ini tidak selalu terjadi pada semua bayi, insting alami untuk menghisap membuat bayi-bayi menghisap jempolnya pada beberapa bulan pertama kehidupannya, atau bahkan sejak dalam kandungan pada usia kehamilan 29 minggu.
Mengapa bayi suka menghisap jempol atau dot?

  • Refleks menghisap (sucking reflex)
    Bayi memiliki dorongan alami untuk menghisap, dimulai dari munculnya refleks menghisap (sucking reflex) sejak ia dilahirkan. Refleks ini akan bertahan pada 3-4 bulan pertama setelah lahir dan akan berkurang setelah ia berusia 6 bulan.
  • Teori psikoanalitik Freud
    Setiap manusia akan menjalani fase-fase perkembangan tertentu dalam hidupnya, salah satunya adalah fase oral pada usia 0-18 bulan. Pada fase oral ini, bayi akan memusatkan stimulus atau rangsang sentuhan pada mulut dan bibirnya.
  • Teori belajar (learning theory)
    Bayi belajar mengasosiasikan tindakan “menghisap” dengan perasaan yang menyenangkan seperti rasa kenyang atau nyaman ketika ia minum ASI dari puting susu sambil dipeluk oleh sang ibu. Karena itulah menghisap jempol atau dot memberikan efek menenangkan (soothing effect), yang tentu membantu si kecil untuk tidur, atau membuatnya nyaman dan menenangkannya ketika ia rewel, marah, takut, lapar, tidak bisa diam, atau merasa bosan.

Apapun dasar teorinya, menghisap jempol termasuk dalam kelompok “nonnutritive sucking” yang secara umum dipandang sebagai dorongan biologis bayi yang berkembang menjadi suatu kebiasaan, yang pada umumnya berhenti pada usia 4 tahun, tetapi dapat pula bertahan lebih lama.
Apakah kebiasaan jempol hisap ini berbahaya?
The Journal of the American Dental Association mengungkapkan bahwa kebiasaan tersebut dapat mengakibatkan beberapa masalah gigi-geligi apabila berlanjut sampai si kecil berusia lebih dari 2 tahun. Masalah yang paling sering terjadi adalah maloklusi atau ketidaksesuaian posisi gigi rahang atas dan bawah yang menimbulkan perubahan pola gigitan. Dr. Mary J. Hayes, dokter gigi anak di Chicago mengungkapkan bahwa kebiasaan menghisap jempol dapat mengakibatkan gangguan bicara terutama ketika mengucapkan frase Ts dan Ds.
Tidak hanya itu, kebiasaan menghisap ini juga dapat menimbulkan rasa nyeri pada jari si kecil, atau terbentuk tonjolan tulang yang abnormal pada jari (kalus), infeksi kuku, dan iritasi kulit. Jempol yang kotor atau terinfeksi dapat menjadi media masuknya bahan-bahan berbahaya yang kemudian tertelan tanpa disadari.
Selain itu ternyata kebiasaan menghisap jempol memiliki konsekuensi psikologis, terutama apabila anak mulai masuk sekolah dan bergaul dengan teman seusianya. Dalam sebuah penelitian pada anak kelas 1 SD di Amerika, ditemukan fakta bahwa anak yang masih menghisap jempolnya dianggap kurang pandai, kurang bahagia, kurang menarik, kurang disukai, kurang menyenangkan, dan kurang diinginkan sebagai sahabat, teman sebangku, atau teman bermain.
Bagaimanapun, beratnya akibat yang akan timbul tergantung dari berapa lama, seberapa sering, seberapa intens si kecil melakukan kebiasaan ini, serta bagaimana posisi jari di dalam mulut. Semakin lama dan intens kebiasaan jempol hisap ini dilakukan, semakin besar kemungkinan si kecil memerlukan terapi psikologis dari psikolog anak atau terapi ortodonti dari dokter gigi untuk memperbaiki masalah gigi-geliginya.
Apa yang dapat Anda lakukan saat ini?
Sebelum si kecil mencapai usia 4 tahun, bahkan sebelum ia menunjukkan kelainan-kelainan gigi atau berbicara, sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mencegah kebiasaan ini berlanjut.
Jika Anda masih menyusui si kecil dengan ASI, berusahalah untuk menyediakan ASI sesering mungkin setiap saat ia menginginkannya. Tujuh puluh lima persen bayi di negara industri menghisap jempolnya pada kurun waktu tertentu, dan angka ini jauh lebih tinggi dibanding di negara yang kebanyakan ibunya dapat memberikan ASI langsung dari payudara. Prinsipnya adalah jika kebutuhan menghisap (sucking urge) si kecil terpenuhi dari ibu, maka ia tidak akan menghisap jempolnya.
Selain itu kita harus ingat bahwa salah satu alasan mengapa si kecil menghisap jempolnya adalah karena ia merasa tidak aman, lapar, atau merindukan kenyamanan seperti yang ia rasakan ketika dalam kandungan, atau ketika ia menghisap dari puting susu sambil dipeluk oleh ibunya. Saat ini cobalah Anda merenungkan kembali adakah saat-saat ketika Anda kurang memperhatikan si kecil, atau kurang tanggap terhadap tangisannya? Dalam alam pikiran si kecil: “hisap = susu, makanan, ibu = nyaman, senang, aman”.
Sebagai orang tua, cobalah untuk memenuhi kebutuhan emosional si kecil. Berikan waktu luang Anda untuk si kecil secara khusus setiap harinya. Tanggap lah terhadap tangisannya dan tunjukkan kasih sayang Anda ketika berusaha menenangkannya. Si kecil mungkin sedang lelah, kedinginan, bosan, atau basah karena ngompol. Sampaikanlah rasa sayang Anda kepada si kecil agar ia merasa aman bersama Anda di rumah.
Kapan Anda harus berkata “STOP!”?
Bila si kecil masih berusia 0-12 bulan, Anda belum perlu melakukan usaha ekstra untuk menghentikan kebiasaan ini karena pada dasarnya menghisap jempol adalah cara si kecil memenuhi dorongan kebutuhan psikologisnya. Apabila kebiasaan ini berlanjut hingga usia 4 tahun, si kecil merasa minder di depan teman-temannya, terdapat gejala gangguan mengunyah atau bicara pada si kecil, Anda dapat mencoba beberapa cara di bawah ini.

  • Bicaralah padanya secara terbuka mengenai akibat negatif yang dapat ditimbulkan oleh kebiasaan menghisap jempol.
  • Batasilah waktu dan tempat dimana si kecil boleh menghisap jempolnya, dan singkirkan selimut atau barang-barang lain yang dapat dihisapnya sebagai pengganti jempol.
  • Pakaikan sarung tangan pada si kecil, atau bungkus jempolnya dengan plester atau kain. Beri pengertian kepada si kecil bahwa itu bukanlah hukuman untuknya, melainkan cara untuk mengingatkannya agar tidak menghisap jempolnya lagi.
  • Buatlah sebuah sistem penghargaan (reward) seperti stiker-stiker lucu yang ditempel di kalender sebagai hadiah apabila sepanjang hari itu si kecil berhasil absen dari kebiasaan menghisap jempolnya. Setelah beberapa hari yang telah disepakati Anda berdua, (dimulai dari 2 hari, 7 hari, kemudian mengingkat menjadi 1 bulan, dan seterusnya), buatlah perayaan atau makan malam spesial untuk keberhasilan si kecil.
  • Batasi kegiatan menonton televisi dan perbanyak kegiatan di luar rumah yang lebih aktif seperti berkebun. Yang penting, buatlah ia sibuk sampai ia lupa menghisap jempol!
  • Jika upaya tadi tidak berhasil, cobalah oleskan bahan-bahan yang rasanya tidak enak pada jempolnya, seperti merica, cuka, atau puyer pahit di ujung jarinya.

Jika seluruh cara tersebut sudah Anda coba tetapi si kecil masih saja melanjutkan kebiasaan menghisap jempol, jangan ragu untuk segera menghubungi psikolog atau dokter Anak untuk mengupayakan terapi lain seperti terapi perilaku atau pembuatan alat khusus.
Nah, apakah sekarang Anda sudah dapat menentukan apakah si kecil masih normal dengan jempol hisapnya ataukah sudah perlu Anda hentikan? Yang penting saat ini adalah tetap sampaikan kasih sayang Anda kepada si kecil dan buatlah ia mengerti bahwa Anda selalu ada untuknya. Mudah-mudahan usaha Anda dapat mencegah, memperpendek, atau menghentikan kebiasaan buruk si kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published.