Menyiasati Kesulitan Makan Pada Anak

Makanan dan gizi adalah hal terpenting dalam proses tumbuh-kembang anak yang optimal. Banyak orangtua yang telah mengetahui pentingnya asupan makanan dan gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan anaknya, sehingga mereka telah memilihkan menu makanan yang bernutrisi tinggi.
Sayangnya, kesulitan biasanya datang dari sisi sang anak. Mereka sering tidak mau makan atau cenderung lebih menyukai makanan seperti makanan siap saji atau junk food (seperti hamburger, fried chicken, french fries), makanan manis (seperti permen dan biskuit), atau makanan yang nikmat (seperti Chiki dan Cheetos). Hal ini kemudian menimbulkan istilah yang disebut “gangguan makan”.
Apa itu “Gangguan Makan” dan Siapa yang Dapat Mengalaminya ?
Gangguan makan adalah suatu kondisi di mana bayi atau anak tidak dapat atau menolak untuk makan, atau memiliki kesulitan makan, yang dapat menyebabkan penyakit, kegagalan pertumbuhan normal, dan bahkan kematian. Beberapa contoh bentuk gangguan tersebut bisa berupa menolak makan, makan diemut, muntah, tersedak, dan memilih-milih makanan.
Kiri-kira 25% dari seluruh jumlah anak di dunia mengalami gangguan makan. Tidak pandang  bulu, baik anak laki-laki maupun perempuan bisa terkena masalah ini. Gangguan makan juga sering terjadi pada anak-anak dengan gangguan perkembangan.
Komponen Utama Sumber Energi
Untuk perkembangan jasmani dan psikisnya, anak membutuhkan sejumlah kalori, nutrisi, dan zat gizi. Komponen-komponen pertumbuhan dan perkembangan tersebut didapat melalui keseimbangan antara protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan serat. Keenam faktor di atas harus selalu ada dalam menu makanan si kecil karena memiliki manfaat penting seperti yang tertulis pada tabel di bawah ini.

Lalu, bagaimana dengan makanan siap saji atau junk food? Junk food yang disukai anak-anak sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu jika anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya obesitas/kegemukan.
Apa Penyebab Gangguan Makan ini ?
Sebenarnya, gangguan makan tidak selalu berarti patologis. Gangguan ini juga bisa normal ditemukan pada anak yang mulai belajar berjalan, biasanya pada usia antara 9-16 bulan. Sebelum usia tersebut, perkembangan fisik dan otak anak berlangsung paling pesat/growth spurt, karena itu tubuh membutuhkan gizi yang banyak, sehingga biasanya anak memiliki nafsu makan yang baik. Namun mulai sekitar usia 1 tahun, perkembangan tubuh tidak lagi sepesat sebelumnya, kebutuhan tubuh akan makanan menurun dan biasanya diikuti nafsu makan anak yang juga menurun.
Selain itu, faktor fisiologis lain yang dapat menyebabkan gangguan makan ini di antaranya: anak memakan cemilan diantara jam makan (sehingga anak tidak merasa lapar lagi), perkembangan ego anak (anak menolak makan sebagai manifestasi dari perkembangan sikap mandiri), anak ingin mencoba kemampuan yang baru dimilikinya (mencoba makan sendiri tetapi orangtua melarang), atau menu makanan yang tidak bervariasi atau bentuk makanan tidak menarik (sehingga membuat anak merasa bosan dengan makanan yang terhidang).
Di luar faktor-faktor di atas, gangguan makan biasanya bersifat patologis dan disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

  • Gangguan anatomi
    Proses makan merupakan proses yang tidak sederhana bagi seorang anak karena harus ada koordinasi otot-otot yang cukup rumit, meliputi memasukkan makanan ke mulut, mengunyah dan selanjutnya menelan. Gangguan anatomi pada saluran pencernaan makan anak dapat menyebabkan gangguan makan dan menelan (disfagia). Contoh gangguan anatomi ini dapat berupa atresia esofagus (saluran esofagus tersambung dengan trakea, sehingga makanan tidak bisa mencapai lambung).
  • Gangguan penyakit
    Penyakit yang dapat menyebabkan gangguan makan dapat disebabkan oleh adanya parasit di dalam tubuh (cacingan) dan mikroorganisme patogen (diare, kembung, dan infeksi saluran cerna). Gangguan saraf otonom juga dapat menimbulkan makan, seperti pada adipsia, yaitu hilangnya rasa haus dan keinginan untuk minum.
  • Gangguan psikologis
    Gangguan psikologis kerap menghalangi proses perkembangan selera dan kemampuan si anak, misalnya berupa perasaan sedih, minta perhatian, depresi, atau perasaan tidak aman. Rasa takut terhadap orang tua juga dapat menyebabkan anak memberontak dan tidak ingin makan.
  • Perbendaharaan rasa yang terbatas
    Bayi-bayi yang telah diperkenalkan berbagai rasa dan bau makanan sejak dini cenderung tidak mengalami kesulitan makan di kemudian hari. Hal ini terjadi karena rasa akan suatu makanan terekam dalam memori bayi di otak yang kemudian proses ini akan mempengaruhi selera makan anak pada usia selanjutnya.
  • Terlambat mengenalkan makanan padat
    Menurut spesialis gastrohepato nutrisi anak dari RSIA Harapan Kita, dr. Eva J. Soelaeman, SpA, anak seharusnya mulai diperkenalkan pada makanan kasar di usia setahun (sambil mengurangi susu). Namun kadang kala, orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar, sehingga lebih memilih memberikan susu daripada makanan padat. Hal ini dapat menyebabkan gangguan makan anak di usia-usia selanjutnya.
  • Gangguan menyusui dari Ibu
    Ibu yang baru melahirkan kadang membutuhkan waktu untuk dapat menyusui atau mengalami masalah berupa air susu yang tidak mencukupi, dan menimbulkan gangguan makan pada bayi. Namun, selama berat badan bayi meningkat sesuai ukuran normal, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Apa gejala-gejala dari gangguan makan ini ?
Bentuk gangguan makan ini dapat berupa:

  • Menolak makan
  • Sulit mengunyah
  • Memuntahkan makanan
  • Makan lama atau diemut
  • Menumpahkan makanan
  • Tersedak
  • Kolik
  • Menangis sebelum dan sesudah makan
  • Berat badan yang tidak sesuai normal
  • Diare atau sakit perut
  • Konstipasi
  • Perubahan perilaku
  • Memilih-milih makanan berdasarkan jenis, warna, atau tekstur tertentu

Bagaimana Cara Mengatasinya ?
Adalah mutlak dan perlu untuk membawa anak ke dokter apabila gangguan makan diperkirakan disebabkan karena gangguan anatomi. Kelainan anatomi pada anak harus diatasi dengan intervensi oleh dokter. Sementara itu, gangguan berupa penyakit, khususnya penyakit-penyakit berat, juga sebaiknya dirujuk kepada dokter untuk dihilangkan faktor penyebab gangguan makannya.
Sementara itu, faktor-faktor penyebab lain dapat diatasi dengan keterampilan pemberian makan oleh orangtua kepada anak. Kuncinya adalah membuat suasana makan menjadi menyenangkan. Beberapa tips yang dapat dilakukan orangtua untuk mengatasi kesulitan makan pada anak ini antara lain:

  1. Berikan vitamin B1 pada anak. Vitamin ini dapat menambah nafsu makannya.
  2. Berikan makanan secara bertahap sesuai dengan kandungan gizi. Misalnya mulai dari yang mengandung banyak zat besi dan protein (seperti daging), sampai terakhir jenis yang kurang penting (seperti puding sebagai penutup mulut). Jika anak merasa sudah kenyang sebelum sampai pada makanan tahap berikutnya, orangtua tidak perlu lagi memaksa anak untuk makan.
  3. Kurangi cemilan di antara jam makan. Termasuk pemberian susu, cemilan sebaiknya dikurangi demi menghindari obesitas pula.
  4. Menghidangkan menu yang bervariasi. Ini untuk menghindari rasa bosan yang dapat menyebabkan anak menolak makan. Selain menu yang bervariasi, cara memasak pun bisa divariasikan.
  5. Mempercantik tampilan makanan. Makanan dapat dibentuk seperti bentuk wajah atau badut dengan bantuan tomat dan telur dadar. Teknik menghias makanan orang Jepang pada bento yang umumnya ditaruh dalam kotak untuk makan siang juga dapat ditiru dan dipelajari.
  6. Masukkan unsur gizi ke dalam makanan kesukaan anak.
  7. Memperkenalkan aneka jenis makanan sejak dini. Diharapkan anak semakin terbiasa dengan makanan rumah.
  8. Seling dengan pengganti nasi, seperti roti, bakpau, makaroni, bila anak menolak makan nasi.
  9. Pemberian makan pada anak tidak boleh terlalu lama. Sebaiknya proses makan tidak lebih dari 20 menit.
  10. Biarkan anak makan sendiri sehingga anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.
  11. Buat perasaan anak menjadi lebih baik jika ia sedang sedih. Tunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab kesedihannya, serta mengghiburnya.
  12. Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Berikan perpanjangan waktu yang cukup. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu tersendiri untuk makan.
  13. Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.
  14. Jika anak sehat dan tidak mau makan, sebaiknya singkirkan saja makanan dan anak tidak perlu diberikan cemilan apapun.  Dengan demikian, ketika tiba waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti akan makan apapun yang dihidangkan.
  15. Tidak perlu selalu mengikuti menu sesuai keinginan anak. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.
  16. Tidak membiasakan makanan diberi bumbu MSG yang dapat menyebabkan ketergantungan anak terhadap MSG karena makanan terasa hambar atau kurang enak tanpa MSG.
Saat Anak Tak Bisa Makan, Adakah Cara Lain Untuk Membantu?
Saat anak sulit makan, pasti sebagai orang tua kita berusaha untuk memberikan apapun untuk membuat ananda bernafsu makan lagi. Sebuah metode dikembangkan sekitar 30 tahun yang lalu di Jerman. Metode ini merupakan terapan dari ilmu biofisika. Dalam hal ini bila keseluruhan tubuh ada dalam kondisi yang optimal, diharapkan meminimalkan gangguan pertumbuhan pada anak, salah satunya menjaga nafsu makan anak.  Metode bioresonansi ini melakukan pendekatan terapi ke faktor penyebab, dan dengan gelombang elektromagnetik yang telah disesuaikan dengan frekwensi sistem pencernaan (mis: usus), mengembalikan tubuh ke kondisi normal yang mungkin telah banyak berubah karena masukan makanan atau berbagai macam faktor eksternal yang tidak dapat diterima oleh tubuh.

Dengan mengetahui bahwa nafsu makan anak digerakkan oleh jumlah makanan yang dibutuhkan tubuh, orang tua seharusnya menjaga nafsu makan anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan kebutuhan tubuhnya. Para ahli psikologi anak sama sekali tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak. Selamat mencoba.
REFERENSI:
PEDIATRIC CLINICS OF NORTH AMERICA, Feb. 2002, halaman 98
http://www.babycenter.com/
http://www.bbc.co.uk/health/
http://www.brilliantbaby.com/
http://www.e-psikologi.com/
http://www.hmc.psu.edu/childrens/healthinfo/
http://www.kompas.com/
http://www.nutrilite.com
http://www.sekolahindonesia.com/

2 Comments
  1. Mila
  2. aufi hidayati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *