Pendidikan Seks untuk Anak : Perlu atau Tabu?

“Ibu, saya berasal dari mana? Seks itu apa?” Jika sebagai orang tua, Anda mendapat pertanyaan seperti itu, apa reaksi Anda? Apakah Anda akan terkejut lalu mengalihkan topik pembicaraan? Atau Anda akan menjawab: “Nanti Sayang, tunggu kamu besar, baru akan Ibu jelaskan.” Kapan sebaiknya anak-anak mengetahui tentang seks? Kapan pendidikan seks sebaiknya mulai diberikan?
Pendidikan seks sering dipandang miring oleh sebagian masyarakat. Padahal, pendidikan seks sangatlah diperlukan agar anak memiliki pengetahuan yang memadai tentang pentingnya menjaga organ-organ reproduksi, serta menanamkan nilai-nilai moral yang berkaitan dengan masalah seksualitas.
 
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Orangtua manapun tentu selalu menginginkan anaknya menjadi anak yang baik. Anak adalah generasi yang diciptakan untuk kehidupan masa depan. Sepantasnyalah orangtua memberikan bekal berupa pendidikan yang menyeluruh, termasuk pendidikan seks. Orangtua dituntut memiliki kepekaan, keterampilan, dan pemahaman agar mampu memberi informasi dalam porsi tertentu, yang justru tidak membuat anak semakin bingung atau penasaran. Orangtua adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap anak dalam masalah pendidikan, termasuk pendidikan seks. Jadi, dalam hal ini, sesungguhnya tidak mutlak diperlukan adanya kurikulum khusus tentang pendidikan seks di sekolah-sekolah.
 
Kapan pendidikan seks mulai diberikan?
Sebagaimana juga dalam pendidikan, maka pendidikan seks merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Karena itu sulit untuk ditentukan dengan pasti kapan harus dimulainya pendidikan seks (sex education).
Dalam rangka melaksanakan pendidikan seks hendaknya tidak disempitkan artinya sebagai sekedar pembicaraan langsung tentang seks saja, melainkan hal-hal lain yang berhubungan dengan proses-proses perkembangan dan kehidupan seks. Dilihat dari sudut ini maka pendidikan seks dimulai pada saat seorang anak mulai bertanya mengenai seks, seperti misalnya: “Mengapa alat kelaminnya berbeda dengan alat kelamin yang dimiliki saudaranya?”
Akan lebih mudah membicarakan masalah seks dengan anak sebelum anak itu mengalami kematangan seks-nya, karena akan lebih terbuka dan perasaan malu berkurang. Di samping itu lebih baik mendahului menerangkan masalah seks terhadap anak sebelum anak mengetahui dari anak atau orang lain yang mungkin memberikan informasi yang salah dan semata-mata karena senang membicarakan soal seks saja.
 
Bagaimana memberikan pendidikan seks ?
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan pendidikan seks untuk anak :

  1. Cara menguraikan sesuatu harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu seperti mengesankan kurang terbuka, terlalu penting atau istimewa.
  2. Isi uraiannya harus objektif. Namun jangan menerangkan yang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak akan bertanya lagi. Boleh mempergunakan contoh atau simbol seperti misalnya proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional. Jadi jangan memberikan perumpamaan yang tidak objektif dan tidak masuk akal.
  3. Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak. Terhadap anak berumur 9 atau 10 tahun tentu belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin. Karena perkembangan dari seluruh aspek kepribadiannya memang belum mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian mendalam mengenai masalah di atas. Terhadap anak umur 6 tahun yang bertanya dari mana datangnya adik, tentu harus diterangkan dengan bahasa sederhana sesuai dengan umurnya, dengan persiapan dan kematangannya untuk dapat menerima uraian dari orang lain. Sebaliknya terhadap anak yang lebih besar, anak yang sudah tergolong remaja perlu uraian yang lebih luas, logis, dan objektif, meliputi misalnya masalah pergaulan dan pembatasannya antara pria dan wanita, masalah moral dalam hubungannya dengan norma umum sesuatu masyarakat atau latar belakang kebudayaan suatu bangsa.
  4. Pendidikan seks harus diberikan secara pribadi, karena luas-sempitnya pengetahuan dengan cepat-lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat setiap anak. Dengan pendekatan pribadi maka cara dan isi uraiannya dapat mudah disesuaikan dengan keadaan khusus anak. Memang tidak berarti tidak bisa diberikan secara klasikal seperti misalnya di sekolah, asalkan suasana akrab dan sikap keterbukaan tetap diperhatikan. Pembicaraan secara pribadi tidak perlu dilakukan pada tempat yang sengaja dibuat untuk keperluan itu, atau pada waktu yang sengaja dirancanakan, tetapi lebih dipentingkan suasananya. Jadi bisa saja dilakukan misalnya sambil berjalan ke toko buku, atau ketika si anak sedang membantu melakukan sesuatu pekerjaan bersama dengan orang tuanya.
  5. Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usaha melaksanakan pendidikan seks perlu diulang-ulang (repetition). Kecuali perlu untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru telah dapat diserap oleh anak juga perlu untuk mengingatkan dan memperkuat (reinforcement) apa yang telah diketahui agar benar-benar menjadi bagian dari pengetahuannya.

Berikut ini beberapa tahapan umur dan cara memberikan pendidikan seks sesuai dengan tingkat usia anak.

  • Balita (1-5 tahun)

Pada usia ini, Anda bisa mulai menanamkan pendidikan seks. Caranya cukup mudah, yaitu dengan mulai memperkenalkan kepada si kecil organ-organ seks miliknya secara singkat. Tidak perlu memberi penjelasan detail karena rentang waktu atensi anak biasanya pendek. Misalnya saat memandikan si kecil, Anda bisa memberitahu berbagai organ tubuh anak, seperti rambut, kepala, tangan, kaki, perut, dan jangan lupa penis dan vagina atau vulva. Lalu terangkan perbedaan alat kelamin dari lawan jenisnya, misalnya jika si kecil memiliki adik yang berlawanan jenis.
Selain itu, tandaskan juga bahwa alat kelamin tersebut tidak boleh dipertontonkan dengan sembarangan, dan terangkan juga jika ada yang menyentuhnya tanpa diketahui orang tua, maka si kecil harus berteriak keras-keras dan melapor kepada orang tuanya. Dengan demikian, anak-anak Anda bisa dilindungi terhadap maraknya kasus kekerasan seksual dan pelecehan seksual terhadap anak.

  • Usia 3-10 tahun

Pada usia ini, anak biasanya mulai aktif bertanya tentang seks. Misalnya anak akan bertanya dari mana ia berasal. Atau pertanyaan yang umum seperti bagaimana asal-usul bayi. Jawaban-jawaban yang sederhana dan terus terang biasanya efektif.
Contoh #1: “Bayi berasal dari mana?” Anda bisa menjawab dari perut ibu. Atau Anda bisa tunjukkan seorang ibu yang sedang hamil dan menunjukkan lokasi bayi di perut ibu tersebut.
Contoh #2: “Bagaimana bayi keluar dari perut Ibu?” Anda bisa menjawab bayi keluar dari lubang vagina atau vulva supaya bisa keluar dari perut ibu.
Contoh #3: “Mengapa bayi bisa ada di perut?” Anda bisa menjawab bahwa bayi di perut ibu karena ada benih yang diberikan oleh ayah kepada ibu. Caranya adalah ayah memasukkan benih tersebut menggunakan penis dan melalui vagina dari ibu. Itu yang dinamakan hubungan seks, dan itu hanya boleh dilakukan oleh pria dan wanita yang telah menikah.

  • Usia Menjelang Remaja

Saat anak semakin berkembang, mulai saatnya Anda menerangkan mengenai haid, mimpi basah, dan juga perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada seorang remaja. Anda bisa terangkan bahwa si gadis kecil akan mengalami perubahan bentuk payudara, atau terangkan akan adanya tumbuh bulu-bulu di sekitar alat kelaminnya.
 

  • Usia Remaja

Pada saat ini, seorang remaja akan mengalami banyak perubahan secara seksual. Anda perlu lebih intensif menanamkan nilai moral yang baik kepadanya. Berikan penjelasan mengenai kerugian seks bebas seperti penyakit yang ditularkan dan akibat-akibat secara emosi.
Menurut penelitian, pendidikan seks sejak dini akan menghindarkan kehamilan di luar pernikahan saat anak-anak bertumbuh menjadi remaja dan saat dewasa kelak. Tidak perlu tabu membicarakan seks dalam keluarga. Karena anak Anda perlu mendapatkan informasi yang tepat dari orangtuanya, bukan dari orang lain tentang seks.
Karena rasa ingin tahu yang besar, jika anak tidak dibekali pendidikan seks, maka anak tersebut akan mencari jawaban dari orang lain, dan akan lebih menakutkan jika informasi seks didapatkan dari teman sebaya atau internet yang informasinya bisa jadi salah. Karena itu, lindungi anak-anak Anda sejak dini dengan membekali mereka pendidikan mengenai seks dengan cara yang tepat.
Sumber :
Psikologi praktis : Anak, Remaja dan Keluarga. Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, Dra. Ny. Y. Singgih D. Gunarsa. 2004. Cetakan 7. Jakarta: Gunung Mulia
Ketika Anak Bertanya Seks. Dr. H. Hanny Ronosulistyo, Sp. OG (K)., M.M.; Dr. Seto Mulyadi, Psi, M.Si-Lia Muliawati.
http://kumpulan.info/keluarga/anak/40-anak/258-pendidikan-seks-anak.html#bagaimana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *