Perlu Tahu! Anak Juga Alami Psikoseksual

Remaja Andi tidak dapat menyembunyikan perasaannya lagi. Ya, dia seminggu ini merasa telah jatuh cinta pada Rissa, seorang wanita yang sepuluh tahun lebih tua darinya. Ia tertarik dengan sifat keibuan yang dimiliki oleh wanita itu, yang ia impikan selama ini. Andi akan menyatakan perasaannya pada Rissa malam ini. Keadaan yang terjadi pada Andi ini, sering kita sebut sebagai Kompleks Oedipus.
Seorang psikoanalis terkenal dari Jerman, Sigmund Freud menyatakan segala segi kehidupan yang terjadi pada masa anak-anak, sangat memberikan pengaruh pada kehidupan dewasanya. Salah satu yang ditekankan oleh Freud adalah perkembangan kejiwaan dan kehidupan seks, psikoseksual.
Apa yang terjadi pada Andi dengan kehidupan kompleks oedipusnya bukanlah suatu keadaan yang terjadi dalam masa yang singkat. Keadaan ini merupakan hasil dari serangkai peristiwa-peristiwa yang ia alami dalam masa kecilnya. Berikut akan kita simak bersama proses perkembangan psikoseksual anak menurut Freud.
Stadium Oral atau Mulut (sejak lahir – 1 tahun)
Mulut adalah organ yang berperanan sangat penting pada anak yang baru lahir hingga berusia sekitar 18 bulan. Sensasi pada mulut seperti rasa haus, rasa lapar, tindakan disusui oleh ibu, memberikan suatu kesan pada anak. Selain itu, seorang anak pada masa ini memiliki kemampuan untuk mempertahankan dirinya dengan makan melalui mulut. Anak juga sudah mengetahui bahwa ia dapat memperoleh kenikmatan dari mulut. Mudahnya, ketika ia mengonsumsi makanan yang menurutnya tidak nikmat, ia akan keluarkan kembali. Ketika ia mendapatkan makanan yang enak, maka ia merasakan sebuah kenikmatan. Rasa kenikmatan dan kepuasan ini sering dianggap sebagai awal dari perasaan seksual.
Seorang anak harus melewati stadium ini agar ia kelak memiliki rasa percaya pada lingkungan sekitarnya. Bila anak tersebut tidak melewati bagian ini maka ia dapat menjadi narsistik (rasa kebanggaan yang berlebihan pada diri sendiri), pesimis, atau optimis berlebih.
Stadium Anal dan Urethral (1-3 tahun)
Tingkatan ini dipicu oleh kemampuan anak untuk mengontrol ototnya terutama pada otot di sekitar anus dan urethra (saluran yang mengeluarkan air seni ke luar tubuh). Ia mendapatkan kenikmatan dari daerah anus tersebut. Misalnya ketika ia sedang mengejan saat buang air besar (BAB), ia bisa mendapatkan rasa kenikmatan dengan menahan kotoran dan mengeluarkannya.
Rasa ego anak pun mulai meninggi. Ia akan marah pada siapapun yang campur tangan pada barang kepemilikannya, termasuk kotorannya. Tentunya, Anda, terutama orang tua, pernah mengalami peristiwa ketika anak Anda enggan untuk berdiri dari pispot usai BAB atau malahan bermain dengan kotorannya. Walau sering dianggap kotor atau jorok, hal ini adalah bagian dari proses belajarnya. Orang tua hendaknya tidak langsung memarahi, tetapi anak seyogyanya dididik perlahan dan diingatkan bahwa ini adalah perbuatan yang tidak baik. Anak pasti akan semakin mengerti sembari diberitahu dengan cara yang baik.
Stadium ini bertujuan agar anak dapat menjadi pribadi yang lebih mandiri dari orang tua dan kontrol diri yang lebih baik.
Bila anak tidak melewati stadium ini dengan sempurna, dikhawatirkan ia dapat menjadi pribadi yang suka memaki, terlalu jorok atau bersih, kikir, dan biseksual (memiliki orientasi seksual yang ganda, yaitu pada pria dan wanita).
Stadium Phalik (3-6 tahun)
Stadium phalik merupakan stadium yang dipengaruhi oleh perkembangan alat genital (kelamin) yang kian matang. Keadaan ini sering ditemukan secara alamiah dan tidak disengaja. Misalnya, pada saat mandi, anak tidak sengaja mengusap alat genitalnya dan merasakan sebuah stimulasi.
Pada stadium ini orang tua mungkin dapat menangkap basah anak memainkan alat genitalnya. Sebaiknya orang tua tidak memarahi anak, karena ini adalah proses normal. Beritahu kepadanya dengan baik-baik, sebagai bagian dari pendidikan seks dini pada anak.
Pada stadium ini terdapat fenomena yang khas, yang oleh Freud disebut Kompleks Oedipus. Freud mengilustrasikannya sebagai rangkaian cinta antara ibu, ayah, dan anak. Pada mulanya, anak (terutama laki-laki) menganggap ibunya sebagai objek cintanya. Rasa ini disebabkan hubungan anak dan ibu yang sangat dekat sejak kelahirannya. Oleh anak, ayah dianggap sebagai saingan dan objek penghambat cintanya.
Bila proses berjalan dengan baik, anak akan mengalah dan berlanjut mengagumi ayahnya. Andaikan proses ini tidak dilewati dengan baik, maka saat dewasa, anak akan mendapatkan bekas kesan bayang-bayang ibunya, seperti yang terjadi pada Andi di atas. Anak akan menganggap orang tua sebagai figur dan tidak lagi sebagai obyek seksual.
Poin terpenting pada stadium ini adalah, orang tua harus mulai mengajarkan kemandirian yang lebih baik, seperti memiliki kamar tidur yang terpisah.
Stadium Laten (6-11 tahun)
Untuk fase ini, anak harus bebas dari konflik dalam dirinya. Libido seksual cenderung tenang. Dengan demikian, anak dapat melakukan hubungan dan identifikasi yang lebih luas misalnya dengan rekan-rekan sekolahnya. Anak mulai memantapkan identiras dan peran seksualnya.
Stadium Genital (11-18 tahun)
Rasa libido kembali pada alat genitalnya dan dianggap sebagai obyek erotis. Ia sudah dapat mencapai stimulasi orgasme. Hal ini didukung oleh perkembangan biologis yang sudah matang.
Pada stadium genital, anak sudah mulai dapat menjalin hubungan heterosexual seperti pacaran. Bila anak telah lulus melewati stadium sebelumnya, seharusnya ia tidak mendapat masalah pada stadium ini.
Setelah kita menyimak perkembangan psikoseksual anak, maka jelas apa yang dialami pada masa kanak-kanak sangat memberi dampak pada kehidupan dewasanya. Bagi para orang tua, perhatikan perkembangan anak Anda.
Referensi
Sadock, Benjamin James. Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry : behavioral sciences/clinical psychiatry. 2007. Wolters Kluwer: Philadelphia.
Agus, Dharmady. Siklus Kehidupan dan Perkembangan Individu. 2003. Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa dan Perilaku Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya: Jakarta.
Freud’s Psychosexual Stages of Development http://www.victorianweb.org/science/freud/develop.html. Terakhir diakses pada 12 Maret 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *