Si Kecil Bermain Itu Buang-Buang Waktu? Ini Manfaatnya!

Setiap orang tua pasti ingin anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang pintar, berprestasi di sekolah, bisa dibanggakan, dan mampu bersaing dengan teman-teman sebayanya. Sehingga para orang tua selain menyekolahkan anaknya, juga mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan ekstrakurikuler, bimbingan belajar, dan bermacam-macam les lainnya. Hal tersebut kerap kali membuat orang tua lupa bahwa sesungguhnya anak-anak membutuhkan waktu untuk bermain.
Bermain sering kali dianggap sebagai kegiatan yang percuma dan hanya membuang waktu. Padahal, anggapan itu adalah salah. Bermain merupakan bentuk ekspresi diri yang paling lengkap yang pernah dikembangkan oleh manusia. Bermain adalah rangkaian perilaku yang kompleks dan multi dimensional, menyenangkan, yang berubah secara signifikan seiring pertumbuhan dan perkembangan anak.
Beberapa manfaat bermain bagi anak diantaranya:
Pertama, mengembangkan kemampuan motorik kasar dan halus
Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, mengalami perkembangan dalam berbagai hal. Diantaranya adalah kekuatan massa otot, koordinasi gerak, dan juga stamina. Semuanya itu harus dilatih agar sang anak mampu untuk melakukan gerakan yang lebih kompleks, seperti bermain bola, lari-larian, memanjat, dan menari. Sedangkan gerakan motorik halus dapat diasah dengan kegiatan seperti mencoret-coret kertas, menggambar dengan crayon, menggunting dan melipat kertas warna.
Kedua, mengolah kemampuan bahasa
Saat bermain, anak dapat menggunakan banyak kata-kata untuk berbicara dengan teman-temannya. Disamping itu anak juga memperoleh kesempatan untuk berani berbicara dan mengungkapkan isi pikirnya. Hal ini penting bagi kemampuan anak dalam berkomunikasi dan memperluas pergaulannya.
Ketiga, meningkatkan keterampilan sosial
Anak dapat belajar untuk bersosialisasi dengan lingkungan di luar keluarganya. Misalnya seperti dalam permainan kelompok, anak dapat mengembangkan pola sosialisasi dan emosinya. Bermain juga dapat menjadi sarana bagi anak untuk belajar menempatkan diri sebangai makhluk sosial, sehingga lambat laun dapat timbul rasa empati dan toleransi kepada orang lain. Bermain dalam kelompok juga melatih anak untuk dapat mengatur ego, sehingga anak mau berbagi, tidak hanya mau menang sendiri, memberi giliran dan kesempatan kepada orang lain.
Keempat, belajar melakukan analisa
Sebagai contoh, anak yang membangun menara dari balok kayu, kemudian mencabut satu buah balok dari dasarnya, maka menara akan rubuh. Dari sini anak dapat menarik kesimpulan bahwa dengan menarik balok kayu dari dasar menara, maka menara akan timpang dan kehilangan keseimbangannya, sehingga jatuh.
Kelima, merangsang kreativitas
Masa kanak-kanak adalah masa yang penuh dengan imajinasi. Dengan bermain, anak akan terpacu untuk berkreasi menyalurkan imajinasinya. Sebagai contoh, naik mobil-mobilan dari kardus atau bakul, dan bermain masak-masakan.
Keenam, melatih disiplin
Hampir dalam setiap permainan, terdapat aturan-aturan yang harus ditaati. Dari sini anak mulai belajar untuk disiplin, melatih diri untuk mengikuti aturan permainan yang berlaku.
Ketujuh, mengolah perasaannya
Bermain akan membuat dunia anak menjadi lebih berwarna, berbagai perasaan akan sang anak jumpai saat bermain. Perasaan senang saat menang, gembira, sedih, kecewa saat mengalami kekalahan, bahkan kemarahan juga dapat anak rasakan. Hal tersebut merupakan pengalaman emosional dan membuat anak mulai belajar untuk bagaimana cara mengatasi perasaan-perasaan tersebut di kemudian hari. Selain itu bermain juga dapat menjadi ajang bagi anak untuk mengembangkan rasa percaya diri, memupuk kepercayaan kepada orang lain, bernegosiasi, dan belajar memecahkan konflik.
Kedelapan, bermain sebagai terapi
Bermain juga dapat digunakan sebagai terapi terhadap anak-anak dengan kondisi khusus, misalnya pada anak ADHD (Attention Deficit Hiperactive Disorder). Terapi bermain ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian anak dari aktivitas yang berlebihan namun tidak bermanfaat. Selain itu juga berguna untuk melatih anak melakukan tugas satu persatu, melatih anak menunggu giliran, dan mengalihkan sasaran agresivitas.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa bermain adalah bagian penting dari masa kanak-kanak, dan merupakan media yang unik untuk memfasilitasi perkembangan ekspresi bahasa, keterampilan komunikasi, perkembangan emosi dan sosial, serta perkembangan kognitif anak-anak.
Namun orang tua kiranya harus dapat mensiasati permainan apa yang memang bermanfaat bagi anak. Artinya, saat anak bermain, orang tua bisa mengajarkan sesuatu dengan menggunakan mainan tersebut. Disarankan bagi orang tua untuk memberikan permainan yang kreatif jika permainan dilakukan di dalam rumah. Selain itu sebaiknya bermain juga tidak hanya dilakukan dengan teman-temannya saja, namun juga bersama dengan orang tua. Bila orang tua ikut bermain bersama, maka orang tua dapat semakin memahami bagaimana sudut pandang anak terhadap berbagai hal dan juga semakin mempererat hubungan orang tua dengan buah hatinya.
Jadi para orangtua, apakah anda akan merenggut waktu bermain anak anda?
Sumber:

  • http://www.childcare-center.com
  • http://episentrum.com
  • Nelson, Textbook of Pediatrics, 17th.ed, page 51-53

Leave a Reply

Your email address will not be published.