Si Kecil Sulit Belajar ? Atasi Segera !

Ketika teman-teman sekolahnya bermain basket atau sepak bola sepulang sekolah, Steven justru ada di rumah, membaca dan belajar. Tetapi, tak peduli seberapa rajin dia belajar, dia tetap kesulitan mengingat sesuatu dan nilainya selalu di bawah rata-rata. Ini sangat kontras, sebab IQ (Intelligence Quotient) Steven sendiri mencapai lebih dari 120, atau di atas rata-rata. Sementara itu, Michael, temannya selalu meraih prestasi bagus, padahal dia jarang belajar. Ini sepertinya tidak adil. Ternyata menurut dr Tjhin Wiguna, SpKJ, kasus seperti inilah yang masuk dalam kategori kesulitan atau gangguan belajar.


Gangguan belajar adalah masalah yang mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima, memproses, menganalisis, dan menyimpan informasi. Hal ini menyebabkan anak lebih lama dan sulit belajar. Lebih lengkapnya, National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD) menjelaskan gangguan belajar sebagai “suatu kumpulan gangguan heterogen yang berdampak pada kesulitan dalam mendengar, berbicara, membaca, menulis, menganalisis, atau memecahkan persoalan matematika”. Gangguan belajar tidak selalu menandakan tingkat kecerdasan yang rendah. Anak dengan gangguan belajar sering sulit mencapai tingkat kecerdasan seusianya oleh karena kurangnya beberapa koneksi dalam otak dalam memproses informasi.


Walaupun gangguan belajar sering terjadi pada anak kecil, banyak kasus yang tidak terdeteksi hingga anak mencapai usia sekolah. Sekitar 1/3 anak yang mengalami gangguan belajar juga menderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), yang menyebabkan mereka sulit untuk fokus pada hal yang dipelajarinya.


Jenis-jenis Gangguan Belajar

Berdasarkan defisit dalam memproses informasi, dibagi menjadi gangguan proses:

  • Input/Masukan: gangguan belajar terjadi karena gangguan penerimaan rangsang oleh kelima panca indra. Misalnya: gangguan visual menyebabkan anak kesulitan membedakan bentuk, posisi, atau ukuran benda.
  • Integration/Kesinambungan: anak dengan gangguan integrasi antara apa yang ia pelajari dapat menyebabkan ia kesulitan untuk mengingat cerita/informasi dalam urutan yang sesuai, atau menghubungkan informasi-informasi tersebut dalam suatu kaitan tunggal.
  • Storage/Penyimpanan: gangguan dapat berupa gangguan penyimpanan memori jangka panjang maupun jangka pendek. Kebanyakan anak mengalami gangguan memori jangka pendek, yang menyebabkan mereka kesulitan mempelajari hal baru tanpa mengulangnya terlebih dahulu.
  • Output/Keluaran: gangguan ini ditandakan dengan kesulitan mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran anak dalam bentuk ucapan, tulisan, gambar, perilaku motorik, dan sebagainya.

Berdasarkan gangguan belajar spesifik; gangguan ini disebabkan karena penurunan fungsi dari area tertentu dalam otak, yang dibagi menjadi:

  • Gangguan membaca/dysleksia
  • Gangguan menulis/dygraphia
  • Gangguan menghitung atau kemampuan Matematika/dyscalculia
  • Gangguan belajar nonverbal (contohnya penurunan kemampuan dalam hubungan sosial atau kemampuan berorganisasi)
  • Dyspraxia (manifestasi pada kemampuan motorik yang menurun)
  • Gangguang berbicara dan mendengar/dysphasia dan aphasia

Penyebab Gangguan Belajar

Tidak ada penyebab pasti mengapa dapat terjadi gangguan belajar. Namun, ada beberapa teori yang mungkin bisa menjelaskan mengapa gangguan belajar ini terjadi, di antaranya adalah:

  • Pengaruh genetik.

Para peneliti menemukan bahwa gangguan belajar sering terjadi dalam satu keluarga. Namun demikian, masih perlu dibuktikan lebih lanjut apakah gangguan belajar betul-betul oleh karena faktor genetik, atau karena anak mengikuti cara belajar orangtuanya.

  • Perkembangan otak.

Perkembangan otak sebelum dan sesudah kelahiran dapat mempengaruhi kemampuan belajar anak. Berat badan lahir rendah, kurangnya oksigen, kelahiran prematur, atau trauma kepala dapat menjadi faktor resiko dari gangguan belajar.

  • Pengaruh lingkungan.

Toksin lingkungan atau kurangnya nutrisi juga dapat menyebabkan kesulitan belajar pada anak.

  • Gangguan panca indra atau cacat fisik.
  • Faktor lain.

Misalnya: keadaan keluarga yang harmonis, penuh perhatian, dan paham akan pentingnya pendidikan merupakan motivator utama anak berprestasi. Suasana sekolah yang tidak ideal, seperti jumlah murid yang terlalu banyak dalam satu kelas atau ruang kelas yang tidak nyaman, juga dapat menjadi penyebab kesulitan belajar anak.

Perkembangan otak anak sendiri berkembang pesat pada usia di bawah 2 tahun. Oleh karena itu, nutrisi sangat penting bagi anak berusia 0-2 tahun. Tetapi sayangnya banyak orangtua yang belum paham sehingga pemberian makanan bergizi untuk pertumbuhan otak kurang diperhatikan. Malah terkadang orangtua memberi makanan yang mengandung monosodium glutamate (MSG), yang berdasarkan penelitian dapat merusak sel-sel saraf dan mempengaruhi kecerdasan.


Bagaimana Cara Mendeteksi Adanya Gangguan Belajar?


Jika anak memiliki masalah dalam belajar untuk ulangan di sekolah, tidak selalu berarti ia mengalami gangguan belajar. Bisa jadi hal tersebut disebabkan karena anak tidak menggunakan cara belajar yang terbaik baginya. Contohnya, ada anak yang baru bisa belajar dengan membaca, ada juga yang mendengar, atau mungkin mempraktekkan. Seorang anak biasanya memiliki suatu cara belajar yang efektif bagi dirinya. Terkadang, anak tidak belajar dengan cara yang terbaik bagi dirinya tersebut, sehingga ia menjadi lambat dalam belajar. Namun hal ini tidak termasuk dalam gangguan belajar.


Anak dengan gangguan belajar membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk belajar, dibandingkan anak seusianya. Identifikasi yang lebih tepat dapat dilakukan oleh seorang psikolog. Ia dapat mengidentifikasi hal tersebut berdasarkan dua hal, yaitu sejarah masa kecil dan tes-tes psikologis. Sejarah masa kecil penting untuk diketahui, untuk mencari peristiwa atau karakteristik di masa kecil yang mempengaruhi perkembangan kesulitan belajar anak.


Sementara itu, tes-tes psikologis di antaranya mencakup tes kecerdasan, tes perolehan akademis, dan tes interaksi sosial. Biasanya tes kecerdasan berupa tes IQ menjadi tolak ukur dalam menentukan tingkat kecerdasan anak yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Namun dalam kehidupan sehari-hari, cukup banyak juga anak yang kemampuan belajarnya tidak sesuai dengan tingkat kecerdasannya.


Bagaimana Cara Mengatasinya?


Sebetulnya tidak ada pengobatan langsung yang dapat menyembuhkan anak dengan gangguan belajar. Namun, tidak pernah ada kata terlambat untuk mencegah atau mengurangi gangguan tersebut. Ada beberapa cara atau intervensi yang dapat diterapkan dalam mengurangi kesulitan belajar ini, yaitu:

  1. Kembangkan bakatnya. Hal ini dapat menjadi upaya mengalihkan perhatian anak dari kelemahan pribadi yang telah membuat mereka kecewa dan apatis. Mereka dapat semakin percaya diri setelah menyadari bahwa mereka juga memiliki kelebihan.
  2. Memberikan pelajaran tambahan juga dipercaya dapat menolong kebutuhan belajar anak. Pelajaran tambahan yang diberikan juga bisa berupa pelajaran komputer yang dapat menjadi alat untuk mempermudah proses belajar.
  3. Latihan indra, koordinasi, konsentrasi, dan keseimbangan.

a.Latihan indra

Misalnya: mengenal benda melalui perbedaan bentuk atau suara dengan mata tertutup. Dengan latihan ini anak dilatih untuk mengenal lingkungan melalui penglihatan, pendengaran, atau perabaan, dan mempertajam indra.

b.Latihan koordinasi

Hal-hal yang termasuk dalam latihan koordinasi ialah menggunting, mewarnai, meronce, mengikat, melakukan estafet, atau gerakan lainnya.

c.Latihan konsentrasi

Melalui latihan ini anak dilatih untuk memperhatikan rangsangan-rangsangan yang ada di luar, melalui permainan, nyanyian, meniru gerakan guru, bermain kartu, atau berkejar-kejaran untuk melatih konsentrasinya.

d.Latihan keseimbangan

Rasa keseimbangan akan menenteramkan emosi anak dan menolong melatih gerak-gerik tubuh mereka. Misalnya, belajar berbaris, menari, menaiki papan titian, senam irama, dan sebagainya.

4. Ubah prinsip belajar

a.Cegah kegagalan yang berulang-ulang. Jika anak menunjukkan tanda-tanda ketidakmampuan dalam mengerjakan sesuatu, segera bantu mereka sebelum mereka merasa gagal.

b.Dorong anak untuk mencari tahu sesuatu dengan usahanya sendiri.

c.Beri dukungan moril atas setiap perubahan sikap anak agar mereka puas. Pujian tulus atau hadiah dapat diberikan sesekali.

d.Perhatikan taraf kemajuan belajar anak, jangan sampai kurang tantangan atau terlalu banyak mengalami kegagalan.

e.Gunakan semua indra pada saat mengajardan maksimalkan indra yang potensial bagi mereka.

5. Dukungan orang tua. Kerjasama dari guru dan orangtua dalam proses belajar anak tentu akan memberikan hasil yang baik. Bila memungkinkan, ibu dapat mengikuti seminar-seminar mengenai anak yang kesulitan belajar untuk menambah wawasan Anda.

6. Berikan perintah atau pengetahuan yang bertahap dan terperinci.

7. Singkirkan benda-benda yang mengganggu konsentrasi mereka saat belajar, seperti mainan, televisi, gambar-gambar, dan sebagainya. Benda-benda tersebut mudah membuyarkan konsentrasi mereka. Termasuk di sini adalah pengaturan tempat duduk sedemikian rupa sehingga anak tidak merasa terganggu.

8. Berikan contoh-contoh konkret setiap mengajar.

9. Berikan kontak fisik. Ada beberapa anak yang mengalami kesulitan belajar, namun terlihat sangat aktif atau bahkan terlalu aktif. Mereka memiliki rentang perhatian yang rendah untuk melakukan hal yang sama terus-menerus. Berusahalah supaya anak ini terus berada di dekat Anda. Kontak fisik seperti merangkul atau memegang pundak bisa meningkatkan perhatian mereka.

REFERENSI:

http://www.kidshealth.org/

http://www.nlm.nih.gov/

http://www.pikiran-rakyat.com/

http://www.wikipedia.org/

2 Comments
  1. fay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *