Menonton TV pada Balita.. Amankah?

Belakangan ini, si kecil sulit tertidur dan kurang fokus saat diajak bicara? Atau ia tampak lemas dan kurang bertenaga? Hati-hati! Jangan-jangan ia terlalu banyak menonton televisi.
Televisi (TV) kini menjadi bagian dari hampir semua rumah tangga di dunia. Semakin banyaknya pilihan dan harga yang semakin terjangkau membuat TV tidak lagi menjadi barang mewah. Bahkan terkadang ada lebih dari satu TV dalam satu rumah: satu di ruang keluarga, satu di kamar ayah dan ibu, dan satu di kamar anak-anak.  Saluran TV khusus anak-anak yang diklaim memancing kreativitas dan perkembangan otak anak pun bermunculan. Kedengarannya bukan hal yang berbahaya, bukan? Tapi di samping menghibur dan memberikan informasi bagi anak-anak kita, TV juga menyimpan berbagai pengaruh yang tidak diinginkan.
Obesitas
Obesitas kini tidak lagi hanya mengancam orang dewasa, tetapi juga balita. Celakanya, balita yang mengalami obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami obesitas di kala dewasa, dibandingkan kawan seumurnya yang memiliki berat badan proporsional. Bagaimana obesitas dapat terkait dengan menonton TV?
Menonton TV membakar kalori yang sangat rendah per jamnya, hanya sedikit lebih besar dari kalori yang dibakar selama kita tidur. Penelitian yang dilakukan di Busan, Korea Selatan pada tahun 2012 menunjukkan, lamanya durasi menonton TV berhubungan dengan peningkatan obesitas pada anak dan penurunan waktu yang dihabiskan untuk olahraga rutin.  Semakin lama anak menonton TV setiap harinya, semakin sedikit pula waktu yang tersisa untuk aktivitas di luar rumah yang lebih membakar energi, seperti bersepeda, berjalan kaki, atau berenang. Pada saat yang bersamaan, si kecil terekspos dengan iklan dari berbagai produk makanan berkadar gula dan lemak tinggi. Iklan-iklan produk makanan yang kurang seimbang gizinya ini sangat banyak ditemui pada program-program yang disiarkan pada prime time.
Anak usia balita tentunya belum dapat memilih makanan berdasarkan nilai gizinya, dan akan lebih banyak memilih produk makanan yang sering ia lihat iklannya di TV. Pola makan tinggi kalori yang tidak diimbangi dengan aktivitas yang membakar kalori ini akan berakibat pada kenaikan berat badan yang berlebihan.


Gangguan Tidur
Menonton siaran TV hingga larut malam dapat mengganggu jam biologis balita Anda. Balita seharusnya tidur 10 jam sehari. Tetapi anak Anda dapat mengalami gangguan tidur bila ia terlalu banyak  terpapar TV. Paparan ini dapat secara aktif (menonton secara khusus sebuah acara), atau pasif (berada di ruangan dengan sebuah TV yang menyala, tetapi tidak ikut menonton). Sebuah penelitian di Finlandia tahun 2006 menunjukkan bahwa menonton TV pada jam tidur, terpapar pada TV secara pasif, dan menonton acara yang ditargetkan untuk orang dewasa dapat menyebabkan gangguan tidur pada anak, yang dapat berupa sulit dibangunkan, sulit memulai tidur, sering terbangun saat tidur, dan durasi tidur yang memendek. Penelitian ini juga menunjukkan, anak-anak yang memiliki TV di kamar mereka, tidur lebih sedikit dibanding anak-anak yang tidak memiliki TV di kamar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *